Kamis, 26 September 2013

Segmentasi dalam perilaku konsumen

Nama : Muhammad Hamdan
NPM : 14211851
Kelas : 3EA02
Tugas : Softskill (Perilaku Konsumen)
Judul: Segmentasi dalam perilaku konsumen

Segmentasi Dalam Perilaku Konsumen
Dalam mengembangkan model segmentasi kami berfokus untuk bisa menggambarkan nilai-nilai yang dimiliki oleh konsumen kelas menengah Indonesia. Karena nilai-nilai membentuk dan mempengaruhi sikap, perilaku, gaya hidup, dan kebutuhan konsumen, maka harapannya, dengan mengetahui nilai-nilai kita juga bisa mengungkap motif di balik sikap, perilaku, dan gaya hidup tersebut. Dalam penelitian ini kami menggunakan tiga dimensi segmentasi untuk memetakan nilai-nilai, sikap, dan perilaku, dan gaya hidup konsumen, yaitu: tingkat kepemilikan sumber daya (ownership of resources), tingkat pengetahuan dan wawasan (knowledgeability), dan tingkat keterhubungan sosial (social connection). Tiga dimensi nilai-nilai ini kami lihat cukup representatif menggambarkan pergeseran nilai-nilai dan perilaku konsumen kelas menengah Indonesia sebagai dampak dari kemajuan sosial-ekonomi (socioeconomic development) yang terjadi di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir.

Kepemilikan sumber daya, tingkat pengetahuan dan wawasan, dan keterhubungan sosial merupakan pendorong perubahan nilai-nilai sebagai dampak dari adanya kemajuan sosial-ekonomi masyarakat. Menurut Inglehart-Welzel (2005), kemajuan sosial-ekonomi ini umumnya dimulai dengan adanya inovasi teknologi di dalam masyarakat yang memicu meningkatnya produktivitas tenaga kerja, hal ini akan berdampak pada terjadinya spesialisasi pekerjaan (occupational specialization), naiknya tingkat pendidikan dan pengetahuan, juga naiknya tingkat pendapatan masyarakat. Berbagai kemajuan ini pada gilirannya akan mendiversifikasi hubungan interaksi antar manusia yang bergeser dari hubungan yang lebih menekankan otoritas (authority relations) mengarah ke hubungan yang dilandasi tawar-menawar (bargaining relations). Pergeseran inilah yang kemudian memunculkan perubahan nilai-nilai dan budaya masyarakat.

Kemajuan-kemajuan sosial-ekonomi menurunkan hambatan-hambatan manusia untuk mendapatkan otonomi (autonomy), mengungkapkan kreativitas (creativity), dan menentukan pilihan-pilihan (choice) melalui tiga cara. Pertama, secara ekonomi, berkurangnya kemiskinan akan memungkinkan berkurangnya hambatan material (material constraint) seseorang untuk menentukan pilihan-pilihan hidupnya, yang pada gilirannya akan meningkatkan keamanan ekonomis (economic security). Kedua, secara pengetahuan/wawasan, naiknya tingkat pendidikan akan memungkinkan berkurangnya hambatan kognitif dan informasi (cognitive constraint) untuk menentukan pilihan-pilihan hidup dan mendorong kemandirian intelektual (sense of intellectual independence). Ketiga, secara sosial, naiknya spesialisasi pekerjaan (occupational specialization) dan kompleksitas sosial, yang kemudian mendorong terjadinya diversifikasi interaksi antar manusia (lihat bagan).

Description: http://consumer3000.net/wp-content/uploads/2013/07/Untitled.png
Gambar 1 The Emancipative Effect of Socioeconomic Development
Singkatnya, kemajuan sosial-ekonomi akan menjadikan orang semakin aman secara material (materially more secure), menjadi semakin otonom secara intelektual (intellectually more autonomous), dan menjadi semakin independen secara sosial (socially independent) dalam menetapkan pilihan-pilihan dalam hidupnya. Jadi, kemajuan sosial ekonomi masyarakat akan menciptakan emansipasi (human emancipation) dan semakin membebaskan orang dalam menentukan pilihan-pilihan hidup. Tiga pergeseran ini pada gilirannya akan mendorong terjadinya pergeseran-pergeseran nilai-nilai dan budaya masyarakat seperti perubahan norma-norma sosial, turunnya angka fertilitas, partisipasi politik yang semakin tinggi dan mereka menjadi lebih kritis secara sosial.

Ownership of Resources
Dimensi kepemilikan sumber daya (resources) menggambarkan tingkat sumber daya yang dimiliki terutama sumber daya finansial yang mempengaruhi kemampuan daya beli dan konsumsi terhadap berbagai barang dan jasa. Besar kecilnya sumber daya yang dimiliki seseorang mencerminkan tingkat hidup (standard of living). Masyarakat kelas menengah umumnya diidentikan dengan kelompok masyarakat yang sudah memiliki standar hidup lumayan karena memiliki aset finansial yang cukup signifikan seperti penghasilan tiap bulan, rumah, mobil, barang-barang rumah tangga (TV, lemari es, AC, mesin cuci, dan sebagainya), tabungan, atau instrumen investasi seperti emas, saham, atau reksadana.

Ukuran sumber daya di sini lebih spesifik adalah aset finansial (financial assets) yang bisa mencakup dua hal. Pertama adalah penghasilan (income) yaitu aset yang bisa dengan mudah dan cepat dimonetisasi untuk pengeluaran dan konsumsi. Kedua adalah kekayaan bersih (net worth), yaitu seluruh aset yang bisa diperjualbelikan (marketable asset) dikurangi hutang.  Beberapa contoh marketable assets adalah rumah, mobil, simpanan emas, dan sebagainya. Aset jenis yang pertama dapat dilihat sebagai indikator ketercukupan dana mendesak (emergency fund availability); sementara yang kedua merupakan indikator keamanan ekonomi dalam jangka panjang (long-term economic security of families).

Ketika seseorang naik kelas dari miskin menjadi lebih kaya (atau dengan kata lain, memiliki sumber daya finansial yang lebih besar) maka ia akan memiliki daya beli (buying power) yang lebih besar. Daya beli yang kian meninkat tersebut pada suatu tingkat tertentu akan mempengaruhi perilaku mereka dalam membeli dan mengkonsumsi barang dan jasa. Karena itu pergeseran massif suatu negara dari negara miskin menjadi negara perpendapatan menengah juga membawa dampak perubahan perilaku konsumen yang luar biasa.

Kecenderungan umum yang terjadi di berbagai negara, seiring meningkatnya daya beli, porsi pengeluaran kelas menengah untuk dibelanjakan makanan dan minuman akan turun (Engel, 1895). Seiring dengan penurunan tersebut, konsumen kelas menengah juga bergeser ke produk makanan-minuman yang lebih berkualitas dan lebih mahal. Akibatnya, kalori yang mereka konsumsi tumbuh lebih lambat dibanding pertumbuhan pengeluaran untuk makanan-minuman (Deaton, 1997).

Kalau porsi pengeluaran untuk makanan-minuman kian mengecil, pertanyaannya kemudian, ke mana larinya uang mereka Salah satu yang besar adalah dialihkan untuk hiburan (entertainment). Itu sebabnya penjualan televisi di negara-negara berpendapatan menengah (middle-income countries) melonjak drastis seiring dengan meningkatnya konsumsi masyarakat. Kenaikan yang signifikan juga terjadi untuk berbagai produk dan kebutuhan sekunder (non-essential categories) lain seperti alkohol, pendidikan, kesehatan, dan perlengkapan rumah tangga (Banerjee & Duflo, 2008).

Singkatnya, sumber daya finansial yang lebih tinggi pada suatu titik akan mendorong seseorang mengkonsumsi barang-barang yang lebih advanced dan barang-barang dengan kualitas yang lebih tinggi. Dalam kasus di Indonesia, kita melihat meningkatnya daya bila ini memicu arus konsumtifisme dimana orang berbelanja secara berlebihan dan membeli barang-barang yang sesungguhnya tidak begitu diperlukan. Banyak juga kasus terjadi, dimana seseorang yang peningkatan sumber daya yang tidak begitu signifikan, tapi serta-merta diikuti oleh tingkat konsumsi yang jauh lebih tinggi. Artinya, laju peningkatan sumber daya finansial, serta-merta diikuti dengan laju peningkatan konsumsi yang lebih tinggi.

Secara psikografis, tingkat kepemilikan sumber daya finansial yang tinggi akan cenderung membuat seseorang merasakan adanya keamanan ekonomis (economic security) untuk tidak jatuh ke dalam kemiskinian atau bahkan kebangkrutan. Kepemilikian kekayaan dan aset yang cukup tinggi bahkan bisa membuat seseorang merasakan adanya kebebasan finansial (financial freedom), dimana setiap konsumsinya bisa tercukupi oleh sumber daya yang dimiliki. Begitu juga sebaliknya, tingkat kepemilikan sumber daya finansial yang terbatas akan menimbulkan kecemasan akan kemungkinan jatuh miskin atau tidak mampu memenuhi standar hidup minimal (minimally acceptable living standard). Kondisi psikologis semacam ini pada gilirannya akan mempengaruhi secara sangat mendasar orientasi hidup, nilai-nilai yang diyakini, dan perilaku-perilaku seseorang.

Kepemilikan sumber daya juga menentukan prospek jangka panjang (long-term personal prospect) dan kemampuan seseorang dalam mendapatkan peluang-peluang ekonomi di masa depan. Seseorang yang memiliki sumber daya finansial lebih besar akan memiliki peluang lebih besar untuk mengakumulasi sumber daya tersebut menjadi lebih besar lagi. Ketika seseorang memiliki pendapatan yang lebih besar dari kebutuhan-kebutuhan yang harus dicukupinya, maka ia akan memiliki “pendapatan menganggur” (discretional income) yang bisa diinvestasikan lebih lanjut. Investasi inilah yang memungkinkan ia mengakumulasi sumber daya finansialnya sehingga menjadi lebih besar lagi.

Tumbuhnya kelas menengah di Indonesia tidak lepas dari meningkatnya kemakmuran dan standard hidup masyarakat sebagai hasil dari proses pembangunan yang dilakukan sejak masa Orde Baru di awal tahun 1970-an. Pembangunan ini berlangsung sangat pesat hingga akhir tahun 1990-an saat Indonesia terkena krisis ekonomi yang memerosotkan pendapatan masyarakat. Sejak pertengahan tahun 2000-an ekonomi Indonesia mulai bangkit dan kembali mencapai momentum pertumbuhan yang cepat hingga saat ini.

Dengan berbagai upaya pembangunan tersebut pendapatan perkapita masyarakat berkembang dari US$70 pada tahun 1969; menjadi di atas US$1000 pada tahun 1997 (sebelum krisis menerjang); pasca krisis pendapatan perkapita merosot hingga mencapai US$600 pada tahun 2000, dan kemudian pulih dan tumbuh kembali hingga menembus angka US$2000 pada tahun 2008; dan tumbuh lebih pesat lagi hingga menembus angka psikologis US$3000 pada akhir tahun 2010.

Knowledgeability
Dimensi knowledgeability menggambarkan tingkat pengetahuan, wawasan, keterbukaan pikiran, adopsi informasi dan teknologi, visi dan tujuan hidup (vision & sense of purpose), penerimaan terhadap modernisasi dan nilai-nilai universal, dan lain-lain. Tingkat pengetahuan yang tinggi dan terbukanya wawasan seseorang akan berpengaruh secara mendasar pada pola pikir dan orientasi hidup seseorang. Hal ini pada gilirannya akan mempengaruhi nilai-nilai yang dianut dan perilaku-perilakunya.

Meningkatnya pengetahuan dan wawasan melalui pendidikan secara mendasar akan mendorong keterbukaan intelektual (intellectual openess), fleksibilitas, dan keluasan pandangan yang pada gilirannya akan mendorong terbentuknya nilai-nilai kemandirian (self-direction values) (Kohn & Schooler, 1983). Pengetahuan dan wawasan yang luas juga akan membuka munculnya ide-ide yang tidak rutin dan inovasi. Tak hanya itu meningkatnya kompetensi dan ketrampilan seseorang yang diperoleh melalui pendidikan juga akan membuat ia lebih cakap menghadapi persoalan-persoalan hidup, yang pada gilirannya akan mengurangi tingkat pentingnya nilai-nilai keamanan (security values). Artinya ia akan menjadi lebih terbuka dan berani mengambil risiko-risiko, juga pilihan-pilihan hidup. Pengetahuan dan wawasan yang luas di sisi lain juga memunculkan sikap untuk mengkritisi dan mempertanyakan norma-norma baku dan tradisi yang sudah mapan sebelumnya, karena itu cenderung mereduksi pentingnya nilai-nilai kepatuhan (comformity) dan tradisi (tradition).

Pengetahuan dan wawasan yang diperoleh melalui pendidikan dari SD hingga pendidikan tinggi juga mempengaruhi nilai-nilai pencapaian (achievement values) seseorang. Dengan terbukanya pengetahuan dan wawasan tak hanya di level lokal/nasional, tapi juga global, maka seseorang akan semakin bisa melihat dan membandingkan standar pencapaian di negara-negara lain. Dan hal tersebut bisa mendorongnya untuk memenuhi standar pencapaian global tersebut. Dengan terbukanya informasi global melalui berbagai media seperti internet, media sosial, TV kabel (CNN, BBC, dan sebagainya.) maka masyarakat Indonesia semakin menjadi “warga dunia” dan menggunakan standar-standar pencapaian global. Mereka tak lagi menjadi “katak dalam tempurung” yang terkungkung dalam standar-standar pencapaian lokal/nasional.
Inglehart dan Welzel (2005) menyimpulkan bahwa kemajuan sosial-ekonomi masyarakat mendorong terjadinya perubahan masyarakat dari tradisional (traditional society), ke modern (modern society), dan akhirnya ke masyarakat pasca-modern (post modern society). Dengan adanya perubahan sosial tersebut nilai-nilai masyarakat bergeser berdasarkan dua aspek: Pertama, pergeseran dari nilai-nilai tradisional (traditional values) ke nilai-nilai sekular/rasional (secular/rational values). Dan kedua, pergeseran dari nilai-nilai bertahan hidup (survival values) ke nilai-nilai ekspresi diri (self expression values).[3] Pergeseran nilai-nilai ini banyak dipengaruhi oleh naiknya tingkat pengetahuan/wawasan masyarakat yang diperoleh karena adanya pendidikan yang semakin membaik.

Nilai-nilai tradisional cenderung menekankan pentingnya agama dan ikatan antara orang tua dan anak; kepatuhan pada norma-norma masyarakat dan nilai-nilai tradisi keluarga; penghormatan yang tinggi pada lembaga perkawinan (sehingga perceraian menjadi satu hal yang tabu). Nilai-nilai ini juga cenderung menekankan pentingnya nasionalisme (atau semangat kelokalan) dan menganut pandangan yang nasionalistik. Sedangkan nilai-nilai sekular/rasional memiliki karakteristik yang secara umum bertentangan dengan nilai-nilai tradisional.

Sementara itu, dengan adanya pergeseran dari masyarakat industrial (industrial society) ke masyarakat berpengetahuan (knowledge society), maka nilai-nilai pun bergeser. Di kalangan masyarakat berpengetahuan, kebutuhan untuk bertahan hidup sudah dianggap terpenuhi dengan sendirinya. Karena itu nilai-nilai mereka mulai bergeser dengan menekankan pentingnya kesejahteraan subyektif (subjective well-being), ekspresi diri (self-expression), dan kualitas hidup (quality of life) yang kian meningkat. Mereka mulai menekankan pentingnya perlindungan terhadap lingkungan, persamaan hak pria-wanita (gender equality), partisipasi dalam pengambilan keputusan ekonomi/politik, juga kebebasan individu, toleransi dan kepercayaan (trust).

Melengkapi Inglehart-Welzel, Hines (2011) menambahkan satu lagi, yaitu nilai-nilai integral (integral values) yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari nilai-nilai pasca-modern. Nilai-nilai ini menekankan pada pertumbuhan personal (personal growth) yang diikuti dengan pemahaman dan sensitivitas terhadap pertimbangan-pertimbangan sistemik yang lebih besar. Masyarakat yang memiliki nilai-nilai ini memiliki semangat kemandirian yang tinggi dan tahu betul apa yang harus dilakukan demi kebaikan global dengan mengacu kepada bisikan hati nuran mereka. Mereka sangat paham pada berbagai konsekuensi dari setiap tindakan yang mereka lakukan dan menimbang betul pengaruhnya bagi kebaikan-kebaikan umat manusia yang lebih luas.[4]

Kemajuan pendidikan di Indonesia berlangsung sangat pesat selama 40 tahun terakhir. Landasan pembangunan pendidikan ini diletakkan oleh pemerintahan Orde Baru sejak tahun 1970-an yang berlangsung hingga 3 dekade lebih. Setelah melalui masa transisi menyusul pecahnya krisis ekonomi pada akhir tahun 1990-an, pembangunan sektor pendidikan ini berlanjut kian cepat hingga sekarang. Salah satu indikator kemajuan pendidikan ini tercermin dari angka partisipasi kasar (gross enrollment ratio, GER), yaitu angka perbandingan antara banyaknya murid dari jenjang pendidikan tertentu dengan banyaknya penduduk usia sekolah pada jenjang yang sama dinyatakan dalam persen.

Data BPS menunjukkan, selama kurun waktu 1994 hingga 2011, angka GER untuk jenjang pendidikan SMA mencapai peningkatan sangat fantastis dari 43% menjadi 64%. Sementara untuk jenjang pendidikan perguruan tinggi meningkat tak kalah signifikan dari 10% menjadi 17%. Untuk kurun waktu yang sama, penduduk usia di atas 15 tahun yang tamat SMA meningkat dari hanya 16,5% menjadi 29,5%. Sementara itu, angka buta huruf untuk usia produktif 15-44 turun drastis dari 6,9% menjadi hanya 2,3% untuk kurun waktu yang sama. Pendidikan masyarakat yang meningkat pesat ini mendorong tingginya tingkat pengetahuan dan wawasan yang pada gilirannya mendorong pergeseran nilai-nilai dan perilaku mereka.

Social Connection
Dimensi social connection menggambarkan tingkat keterhubungan seseorang dengan lingkungan sosialnya. Lingkungan sosial ini mencakup unit yang paling kecil yaitu keluarga dan tetangga, lingkungan masyarakat yang lebih luas seperti negara, hingga lingkungan masyarakat global/universal. Dimensi ini mencerminkan seberapa besar seseorang mempengaruhi dan dipengaruhi lingkungan sosialnya. Kemunculan teknologi dan perangkat sosial (social technologies & tools) seperti internet dan media sosial memungkinkan koneksi antar individu kini tak hanya sebatas dilaksanakan secara fisik (phisically/offline-connection) tapi juga secara virtual/online (virtually/online connection). Perkembangan teknologi yang massif berlangsung sepuluh tahun terakhir ini membawa perubahan besar yang belum pernah ada dalam kemajuan umat manusia sebelumnya.

Masyarakat kelas menengah sering diidentikan dengan kelompok masyarakat di mana dalam fase perkembangan sosial-ekonomisnya, kebutuhan-kebutuhan dasarnya (basicneeds) telah terpenuhi/terlampaui untuk kemudian meningkat ke kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi (advance). Maslow (1943) mengidentifikasi bahwa motivasi manusia dipengaruhi oleh kebutuhan-kebutuhan yang bergerak secara hirarkis dari kebutuhan fisik (phisiological needs), kebutuhan keamanan (safety needs), kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki (love and belonging needs), kebutuhan akan kehormatan dan harga diri (esteem needs), hingga kebutuhan beraktualisasi diri (self-actualization needs).

Kalau digali lebih jauh, sesungguhnya dua kebutuhan di hirarki terbawah yaitu kebutuhan fisik dan keamanan merupakan kebutuhan dasar manusia (basic needs) mencakup kebutuhan akan makan, minum, seks, tempat berteduh, dan perlindungan/keamanan diri. Sementara, kebutuhan di hirarki berikutnya yaitu kebutuhan akan cinta, kehormatan, dan aktualisasi diri merupakan kebutuhan sosial (social needs). Kenapa disebut kebutuhan sosial Karena kebutuhan-kebutuhan tersebut terkait dengan kebutuhan untuk melakukan relasi sosial dengan orang-orang lain. Kebutuhan mencintai dan dicintai misalnya, hanya akan bisa terwujud jika karena adanya relasi dengan orang lain yang dicintai maupun mencintai.

Nah, kalau masyarakat kelas menengah sudah mulai terlewati kebutuhan-kebutuhan dasarnya, maka dengan sendirinya kebutuhan mereka akan meningkat kepada kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi yaitu kebutuhan-kebutuhan sosial seperti loveself-esteem, danself actualization. Karena pertimbangan inilah kami melihat social connection menjadi dimensi yang penting untuk menggambarkan nilai-nilai dan perilaku konsumen kelas menengah. Pentingnya dimensi social connection ini misalnya terlihat pada fenomena kesuksesan 7-Eleven dan peritel-peritel sejenis di Jakarta. 7-Eleven sukses menangkap konsumen kelas menengah dari kalangan muda karena berhasil memosisikan diri sebagai tempat untuk bersosialisasi dan berkoneksi sosial dengan teman dan kolega (sering disebut juga sebagai tempat nongkrong). Jadi mereka ke 7-Eleven tak hanya melulu mencari makanan atau minuman seperti umumnya minimarket/supermarket yang lain, tapi juga untuk memenuhi kebutuhan berkoneksi sosial.


Description: http://consumer3000.net/wp-content/uploads/2013/07/Untitled2.png
Gambar 2 Piramida Teori Hirarki Kebutuhan


Hines (2011) mengorelasikan teori hirarki kebutuhan manusia Maslow dengan teori mengenai pergeseran nilai-nilai dunia (world values) dari Inglehart-Welzel dan mendapati adanya interseksi di antara keduanya. Survival needs misalnya identik dengan traditional valuesbelonging needs identik dengan modern valuesself actualization identik denganpost-modern values; dan self-transcending needs identik dengan integral values. Dengan adanya korelasi ini ia kemudian mengelompokkan kebutuhan (needs) lebih jauh menjadi tiga sub-kategori, yaitu: self-related needsothers-related needs, dan existential needs. Tiga jenis kebutuhan umum ini oleh Hines disebut sebagai kebutuhan universal (universalneeds).[5]

Dari kebutuhan-kebutuhan universal tersebut, yang kedua yaitu others-related needsmerupakan kebutuhan yang terkait dengan koneksi sosial. Beberapa contohnya adalah kebutuhan untuk mendapatkan keamanan keluarga (family security); kebutuhan untuk melakukan pertemanan (friendship), kebutuhan untuk mencintai dan dicintai (affection); kebutuhan untuk mendapatkan dukungan dari keluarga; kebutuhan penerimaan dan dihormati oleh orang lain; kebutuhan untuk mendapatkan status sosial tertentu; kebutuhan untuk berpartisipasi secara sosial dan politik; kebutuhan akan kedekatan dengan sesama (closeness to others); dan lain-lain. Kami melihat, seiring dengan meningkatnya kesejahteraan ekonomi dan meningkatnya pengetahuan/wawasan kelas menengah, kebutuhan-kebutuhan untuk berkoneksi sosial ini menjadi kian penting dan cukup dominan mewarnai kebutuhan mereka.

Dalam sepuluh tahun terakhir, kebutuhan untuk berkoneksi sosial mengalami revitalisasi, pengayaan (enrichment), dan pendalaman (deepening) dengan berkembangnya teknologi-teknologi yang memudahkan orang berelasi sosial (social technologies). Sepuluh tahun terakhir misalnya, kita menyaksikan terjadinya revolusi media sosial (social media) dengan munculnya layanan-layanan seperti Facebook, Twitter, YouTube, Blacberry Messanger, Yahoo Messanger, blog, dan lain-lain, yang secara mendasar mengubah pola perilaku masyarakat berelasi sosial. Dengan berbagai layanan dan tools tersebut mereka bisa berkoneksi dan berjejaring sosial dengan teman, rekan kerja, anggota keluarga, dan siapapun secara mobile selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Mereka melakukan itu tak hanya melalui perangkat desktop di rumah tapi juga dengan menggunakan perangkatmobile seperti smartphone atau tablet.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat penggunaan media sosial tertinggi di dunia. Saat ini Indonesia menduduki tempat keempat sebagai negara dengan pengguna Facebook terbesar di dunia. Indonesia juga menempati urutan kelima sebagai pengguna Twitter terbesar di dunia. Jakarta bahkan menduduki peringkat pertama sebagai kota dengan aktivitas ber-Twitter paling tinggi (produksi twit terbesar di banding kota-kota lain di dunia). Di samping itu, Indonesia juga merupakan pengguna Blackberry terbesar di dunia di luar Kanada, dimana Blackberry Messanger begitu populer dimanfaatkan masyarakat untuk berkoneksi sosial.

Kelompok masyarakat yang paling signifikan melakukan aktivitas berselancar dan berjejaring sosial dengan menggunakan media sosial ini adalah kalangan masyarakat kelas menengah. Merekalah yang memiliki daya beli cukup untuk memiliki smartphone yang bisa menjalankan berbagai aplikasi media sosial tersebut. Revolusi media sosial yang terjadi sekitar 5 tahun terakhir membawa dampak pada perubahan perilaku berkoneksi sosial mereka, seperti tercermin dalam fenomena maraknya komunitas-komunitas hobi; budaya nongkrong di mal, kafe, atau atau meeting points seperti Starbucks atau 7-Eleven; mewabahnya budaya narsis (narcissism) melalui update status di Twitter atau Facebook; dan sebagainya. Karena fenomena dan perkembangan baru inilah kami melihat dimensi koneksi sosial merupakan dimensi yang semakin penting ketika kita ingin memotret nilai-nilai dan perilaku masyarakat kelas menengah di Indonesia.

Data Nielsen menunjukkan, penetrasi kepemilikan ponsel di Indonesia sudah melebihi 60%, di mana sekitar 20% di antaranya adalah ponsel cerdas (smartphone). Penetrasi televisi sudah mendekati 100% dan TV berbayar sudah di atas 10%. Sementara survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (APJI) menunjukkan penetrasi internet tahun ini (2013) diharapkan telah mencapai 80-an juta orang atau menembus angka 30% dari penduduk Indonesia. Berbagai perkembangan mengesankan ini memungkinkan masyarakat, khusunya kelas menengah, mampu menjangkau informasi dari manapun di seluruh pelosok bumi, sehingga mereka menjadi masyarakat yang sangat terinformasi (infomationalized).

DELAPAN SEGMEN GENERIK
Dengan menggunakan kerangka kerja teoritik di atas Center for Middle Class Studies (CMCS) melakukan studi untuk memotret dan mengetahui profil konsumen kelas menengah Indonesia baik mencakup nilai-nilai, sikap, dan perilakunya. Studi ini meliputi focus group discussion (FGD) dan indepth interview ditambah dengan studi etnografi untuk lebih dalam menelusuri background sosialnya. FGD dan indepth interview dilakukan bulan November 2011 dengan mengambil responden yang merepresentasi konsumen kelas menengah yaitu pekerja/profesional, wirausahawan (tradisional/modern), ibu rumah tangga (bekerja/tidak bekerja), pelajar/mahasiswa, dan pegawai pemerintah (PNS) dengan pengeluaran berkisar US$2-20 per hari sesuai definisi kelas menengah yang dirumuskan oleh Asian Development Bank (2010).[6] Agar pengelompokan responden lebih seragam, rentang pengeluaran ini dibagi menjadi dua yaitu kelompok pengeluaran US$2-10 dan US$10-20.

Dengan mengacu pada dimensi nilai-nilai konsumen seperti sudah dibahas di muka, yaitu: tingkat kepemilikan sumber daya (resources), tingkat pengetahuan/wawasan (knowledgeability), dan koneksi sosial (social connection) kami berhasil mengidentifikasi delapan segmen kelas menengah Indonesia. Model segmentasinya digambarkan dalam bentuk sebuah matriks seperti terlihat pada gambar. Bagaimana profil dan karakteristik dari delapan segmen konsumen kelas menengah Indonesia berdasarkan model segmentasi di atas? Dalam bab ini kami hanya menjelaskan secara sekilas karakteristik konsumen kelas menengah di delapan segmen tersebut. Mengingat pembasannya cukup mendalam dan panjang, kami menyajikan penjelasan mendalam mengenai nilai-nilai, sikap, dan perilaku di masing-masing segmen tersebut di satu bahasan terpisah di bab berikutnya. Agar pembaca memiliki snapshot mengenai delapan segmen tersebut, kami juga menyajikan ringkasannya dalam bentuk sebuah tabel.
Description: http://consumer3000.net/wp-content/uploads/2013/07/Untitled3.png
Gambar 3 The Indonesia Middle Class Segmentation Model

Performer adalah kalangan professional dan entrepreneur yang memiliki ambisi luar biasa untuk membangun kompetensi diri. Mereka adalah self-achiever yang menggunakan kompetensi dan ketrampilan sebagai alat untuk mendongkrak tingkat ekonomi. Karena itu mereka selalu meng-update informasi, mengadopsi teknologi, dan terus belajar untuk meng-improve diri. Karena memegang informasi dan teknologi, mereka cenderung melihat persaingan (dengan rekan-rekan kerja) secara positif. Performer lebih selfish dengan misi hidup mencapai kebebasan keuangan (financial freedom). Ya, karena mereka belum puas dengan tingkat kehidupan ekonomi saat ini.

Aspirator adalah performer yang sudah mapan dan cukup puas dengan kondisi ekonomi saat ini. Mereka juga open mind terhadap globalisasi dan dan mengadopsi nilai-nilai universal. Karena sudah merasa cukup, maka orientasi hidup mereka tidak lagi selfish. Ia mulai memikirkan hal-hal di luar dirinya: mulai peduli dengan anggota DPR yang hobi korupsi; mulai peduli pesawat kok jatuh melulu; mulai peduli dengan pemanasan global atau hutan Kalimantan yang dibabat habis. Ia punya harapan menjadi influencer bagi masyarakat, lingkungan, dan negaranya. Jadi tidak benar, seluruh kelas menengah Indonesia itu acuh tak acuh terhadap negaranya.

Expert kebanyakan adalah profesional di berbagai bidang mulai dari dokter, arsitek, konsultan, atau pengacara yang selalu berupaya menjadi ekspert di bidang yang digelutinya. Setiap hari mereka sibuk menekuni bidang profesinya dari pagi hingga larut malam. Dokter yang sudah laku misalnya, harus mengurusi pasien-pasiennya dari pagi hingga dini hari. Hidupnya cenderung rutin dan monoton, tapi mereka menikmatinya, karena semua pekerjaan itu dilakukan dengan passionate. Karena “tertawan” oleh pekerjaan, mereka tidak memiliki cukup waktu luang untuk anak-anak, jalan-jalan di mal, atau menghadiri acara-acara keluarga/kerabat. Karena itu lingkungan pergaulan mereka juga terbatas, melulu di lingkungan profesinya. Intinya, “their life is their career“.

Climber adalah para pegawai pabrik (blue collar), salesman, supervisor, dan sebagainya yang berupaya keras membanting-tulang untuk menaikkan status ekonominya. Harapan utama mereka adalah mendongkrak karir dan menaikkan taraf kehidupan menjadi lebih baik. Karena umunya masih mengawali karir, mereka masih suka pindah-pindah kerja (job-hunter), risk-taker dalam karir, dan cenderung melihat bahwa “career is a journey“. Seperti halnya Expert, mereka memiliki sedikit waktu luang karena pagi-pagi harus berangkat ke kantor atau pabrik dan lepas Magrib baru bisa pulang ke rumah dalam kondisi capek. Umumnya mereka memiliki family-values yang tinggi dan bekerja keras melulu untuk keluarga. Karena itu mereka adalah sosok “hero of their family“.

Follower umumnya adalah kalangan muda (SMA dan kuliah) yang membutuhkan panutan (role model) untuk menemukan dan menunjukkan eksistensinya. Kenapa butuh panutan? Ya karena mereka masih mencari jati diri, belum punya banyak pengalaman, dan wawasannya masih terbatas (short-term visionless sense of purpose). Mereka adalah generasi galau (ababil: “ABG labil”). Karena hal ini pula, tangible aspect seperti tampilan fisik, kepemilikan barang mahal, atau citra diri menjadi sesuatu yang penting. Bagi mereka teman adalah segalanya (friends are everything) dan diterima di lingkungan teman merupakan sesuatu yang penting untuk menunjukkan eksistensi mereka. Koneksi dengan teman (connecting with friends) mereka lakukan melalui media sosial seperti Facebook dan Twitter.
Trend-setter memiliki daya beli yang lebih tinggi (more resources) dibanding follower. Karena lebih mampu, mereka ingin menjadi panutan dalam gaya hidup (peripheral lifestyle) seperti fesyen, gaya selebriti, gadget, dan sebagainya) bagi teman-temannya. They are victim of trends. Mereka menemukan eksistensinya ketika diikuti dan menjadi center of attention di lingkungan teman-temannya. Untuk bisa terus mengikuti tren dan isu-isu terbaru, mereka aktif berkoneksi di lingkungan teman-temannya menggunakan Facebook atau Twitter. Dengan karakteristik seperti itu, tak diragukan lagi bahwa mereka adalah orang-orang narsis (narcissist) dan cenderung self-centered.

Flow-er adalah sosok yang tidak puas dengan tingkat kehidupan ekonominya saat ini, namun mereka tak tahu harus bagaimana untuk merubahnya. Karena tingkat pendidikan dan pengetahuan yang terbatas, mereka cenderung kurang meng-update informasi dan mengadopsi teknologi sehingga wawasan dan visi hidupnya terbatas. Dengan keterbatasan itu, hidup mereka cenderung pasrah dan mengalir (flow) di tengah perubahan kehidupan (teknologi, informasi, sosial, politik, dan sebagainya) yang cepat dan bergolak. Keluarga dan (terutama) anak adalah aset terbesar yang mereka miliki. Di tengah pergolakan hidup yang cepat pegangan mereka hanya satu, yaitu keyakinan agama (high spiritual values). Karena itu mereka cenderung menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat.

Settler adalah Flow-er yang sudah memiliki kemapanan hidup. Sosok ini merintis warung atau punya lahan luas hasil warisan yang menghasilkan sumber keuangan cukup besar bagi kehidupan ekonomi. Mereka tidak lagi memiliki keresahaan hidup dari sisi ekonomis. Hanya saja, berbeda dengan Aspirator atau Performer, mereka bukanlah sosok yangknowledgeable, bisa jadi cuma lulus SD atau SMP. Karena tingkat pengetahuan yang terbatas, maka mereka cenderung memegang nilai-nilai tradisional dan fobia terhadap perkembangan informasi, teknologi, dan globalisasi. Karena sudah puas dengan sukses yang dicapai saat ini, mereka cenderung tidak belajar dan mengembangkan diri. They are at the comfort zone.




































Referensi:





0 komentar:

Posting Komentar