Selasa, 19 November 2013

KELAS SOSIAL DILIHAT DARI SUDUT PANDANG PENDIDIKAN PENDAPATAN DAN KESEHATAN


PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT   
KELAS SEBAGAI SISTEM SOSIAL
Marilah kita perhatikan suatu kelas. Tiap-tiap kelas mempunyai struktur hierarki. Di sana ada guru ada juga siswa, ada pengurus kelas, ada tata tertib, ada jadwal dan sebagainya. Dalam kelas ada interaksi antara guru dengan guru, antara siswa dengan siswa. Oleh karena kehidupan kelas sama dengan kehidupan sosial. Kehidupan kelas sebagai kehidupan sosial dapat dipandang sebagai kehidupan menurut sistem sosial.
 
Philip Jacson menyatakan bahwa kelas dalam beberapa hal bisa dipersamakan dengan kerumunan orang yang berjejal-jejal para individu. Karena kondisi yang demikian ini maka guru dipacu untuk mengadakan pendisiplinan dan pengontrolan terhadap para siswa. (Sanapiah Faizal, TT, p. 195). Pendisiplinan dan pengontrolan ini dimaksudkan oleh guru agar siswa tidak bertindak semena-mena, kehidupan kelas dapat berjalan sesuai dengan aturan yang telah disepakati bersama. Aturan-aturan dapat dilaksanakan dengan baik jika di sana ada hirarki otoritas yang memiliki suatu kekuasaan dan pembawaan yang telah melembaga. Aturan-aturan dapat berjalan secara baik jika ada serangkaian kegiatan yang melembaga secara teratur dan tetap (rutin).

Dalam rangka membahas kelas sebagai sistem sosial dan segi dinamika sosial Sanapiah Faizal dengan mempergunakan sumber dari Sarane Spence Boocock (1980) mengajukan lima aspek yang perlu diperhatikan. Lima aspek berorientasi pada fungsi kelas sebagai lingkungan belajar yaitu (1) ukuran kelas, (2) komposisi sosial kelas, (3) teknologi kelas, (4) struktur komunikasi, dan (5) suasana sosial.

UKURAN KELAS

Ukuran kelas merupakan persoalan yang banyak dibicarakan. Besar kecilnya kelas berkaitan dengan berbagai pertimbangan. Bagi sekolah-sekolah swasta pertimbangan jumlah siswa banyak ditentukan oleh biaya yang dibutuhkan untuk mengelola satu kelas dan aturan yang berlaku. Sekolah-sekolah negeri berorientasi pada daya tampung dan aturan yang berlaku. Menurut aturan yang berlaku jumlah kelas ditentukan oleh rasio guru dan siswa. Seorang guru sebaiknya menghadapi 25 sampai 35 siswa.
Bila dipandang dari segi guru maka kelas yang kecil adalah menyenangkan. Makin kecil kelas yang dihadapi oleh seorang guru akan memperingan beban kerja yang dihadapi oleh seorang guru. Kelas yang kecil mudah pengelolaannya, sehingga kelas dapat dikontrol dengan baik. Tugas guru yang berkaitan dengan koreksi pekerjaan ujian dan pembuatan laporan menjadi ringan.

Besar kecilnya kelas bila dikaitkan dengan efektivitas dan efisiensi belajar masih banyak diragukan. Jumlah siswa yang kecil itu hannya efektif bagi siswa yang berkemampuan rendah. Bagi siswa-siswa yang kemampuan tinggi jumlah siswa tidak berpengaruh terhadap prestasi belajar (Porwell, 1978). Oleh karena itu kelas kecil cocok untuk siswa-siswa yang berkelainan terutama anak yang berkelainan mental. Sekolah sekolah untuk anak yang berkelainan rata kelasnya kecil antara 5 sampal 10 siswa. Dilihat dari segi efisiensi kelas yang kecil terlalu banyak pemborosan. Biaya dan tenaga yang dikeluarkan tidak seimbang. Biaya dan tenaga yang dikeluarkan tidak sesuai.
 
Jika perbedaan ukuran kelas hanya kecil umpama 1, 2, atau 3 orang siswa maka pengaruh terhadap basil belajar siswa sangat kecil. Perbedaan sepuluh sampai lima belas siswa mungkin dapat menyebabkan perbedaan hasil belajar.
 
Kelas yang besar dapat dibagi dalam subkelornpok-subkelompok. Pembagian kelas menjadi kelompok kelompok ini telah banyak dikerjakan baik yang secara langsung ditangani guru maupun ditangani oleh siswa sendiri. Banyak para guru membentuk kelompok-kelompok belajar.

Menurut Mc Keanie yang dikutip Sanapiah Faizal menyatakan bahwa besar kecilnya kelas mempunyai dua konsekuensi. Pertama menambah jumlah siswa dalam kelas berarti menambah informasi yang bersumber dari para siswa. Kedua dengan tambahnya siswa maka guru tidak mungkin memperhatikan semua siswa. Demikian pula partisipasi siswa tidak akan merata. Semua anak dipandang sama pada setiap individu berbeda-beda.
Pembagian kelompok yang baik antara tiga sampai sembilan siswa. (Weick, 1969, p. 24-25). Kelompok yang terdiri dua orang akan terjadi kesatuan dasar tingkah laku yang disebut dwitunggal. Dalam kesatuan dwitunggal akan muncul adanya interaksi yang saling tergantung, gotong royong dan saling bantu membantu. Kelemahannya adalah tidak mengontrol. Jumlah kelompok tiga siswa dapat menimbulkan interaksi saling tergantung dan ada kontrol dari orang ketiga. Penambahan menjadi empat kelompok dapat timbul persekutuan dwitunggal sehingga kehilangan unsur kontrol dalam kelompok. Jumlah 9 untuk kelompok jumlah yang baik karena dapat dibagi menjadi tiga sub kelompok yang terdiri dan tiga kesatuan tritunggal yang masing-masing kelompok dapat mempunyai unsur kontrol dan masing-masing subkelompok dapat menjadi kontrol terhadap subkelompok yang lain.

KONTEK SOSIAL KELAS

Marilah kita perhatikan susunan siswa dari suatu kelas. Kelas pada suatu sekolah di desa dan di kota akan lain, jika dilihat dari ras, suku, dan agama, akan tetapi bila dilihat dari segi umur dan jenis kelamin akan sama komposisinya.

Jika dilihat dari jenis kelamin maka kelas akan menampakkan sifat yang heterogen. Sebab tilap kelas akan terdiri dari siswa putra dan siswa putri. Pada sekolah swasta tertentu dan jenis sekolah tertentu yang siswanya memiliki sifat homogen, umpama Sekolah Menengah Kesejahteraan Keluarga (SMKK) khusus dihadiri siswa putri, STM dihadiri khusus siswa putra. Akan tetapi pemisahan antara siswa putra dan siswa putri pada akhir-akhir ini telah menurun.

Homogenitas kelas jika dilihat dari segi umur telah dikembangkan sejak abad ke-19. Sekarang ini syarat umur untuk suatu kelas telah dilaksanakan secara ketat. Komposisi umur ini sangat penting sebab (1) dapat digunakan pedoman untuk penenimaan siswa baru, (2) siswa dengan sifat dasar sosial yang sama akan memudahkan guru dalam memberikan pelayanan para siswa dalam rangka memilih strategi belajar mengajar yang tepat.

Seperti telah diketahui di muka bahwa dalam satu kelas seorang guru akan berhadapan dengan 25 siswa keatas. Dilihat dari umur guru dan siswa akan berbeda. Perbedaan dari segi umur ini akan mempunyai dampak terhadap keputusan kelas. Segala sesuatu akan cenderung diputuskan oleh guru saja. Hal ini akan menyebabkan kesatuan sosial menjadi pecah. Kondisi kelas yang demikian ini akan menjadikan kelas bukan merupakan suatu komunalitas (Sarason, 1982, p, 182).

Di kota kelas yang heterogen, jika dilihat dari suku, ras dan agama cukup banyak dalam satu kelas ada yang berasal dari Jawa, Sunda, suku Madura dan sebagainya, ada yang beragama Hindu, Budha, Kristen Protestan, Katolik dan Islam. Akan tetapi kebanyakan sekolah siswa-siswa yang beragama Islam merupakan mayonitas. Pada sekolah-sekolah tertentu dan daerah tertentu memang ada kelas yang mayonitas sekolah bukan agama Islam. Akan tetapi untuk daerah tertentu dapat terjadi kelas itu dilihat dari segi agama adalah homogen.

Kelas dilihat dari segi sosial ekonomi lebih cenderung heterogen. Setiap kelas akan dihadiri oleh siswa siswa yang berasal dari kondisi sosial ekonomi orang tua yang berbeda-beda. Ada siswa yang berasal dari kelas sosial yang tinggi, menengah dan rendah untuk kategori daerah itu. Ada siswa yang berasal dari keluarga kaya dan miskin.

Dilihat dari kemampuan siswa suatu kelas cenderung heterogen. Sebab setiap kelas akan mengikuti gejala normal yaitu terdiri dari anak yang pandai, sedang dan kurang pandai. Efek dan kondisi kelas yang demikian ini dilihat dari segi kemampuan terhadap kemampuan kognitif dan afektif masih banyak menjadi pertentangan dari para ahli. Pengelompokkan berdasarkan kemampuan akan kurang tepat jika dilihat secara paedagogis.
   
Golderg dan kawan-kawan (1966) telah mengadakan penelitian terhadap efek homogenitas terhadap kemarnpuan akademik anak. Hasil penelitian itu sebagai berikut:
1.      Kehadiran anak-anak yang berbakat dalam satu kelas mempengaruhi siswa-siswa cakap tetapi tidak berbakat, tetapi untuk siswa-siswa yang lain tidak berpengaruh.
2.      Kehadiran anak lambat belajar dalam kelas tidak berpengaruh secara konsisten, artinya dapat berpengaruh dapat pula tidak.
3.      Siswa-siswa yang berbakat akan bagus penampilannya bila anak-anak itu digabungkan dalam kelas yang sama-sama berbakat. Siswa-siswa lain cenderung untuk berusaha semaksimal mungkin sehingga dapat mengejar kekurangannya, setidak-tidaknya mengurangi jarak kemampuannya.
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengelompokan berdasarkan kemampuan tidak memiliki pengaruh kuat terhadap penampilan akademik para siswa. Kehadiran anak-anak yang sangat berbakat dalam kelas mempunyal pengaruh yang positif pada teman di kelasnya, biarpun anak yang berbakat itu paling baik penampilannya bila disatukan dengan anak yang sama bakatnya. Kehadirannya anak yang kurang bcrbakat tidak berpengãruh negarif pada kelasnya.

Menurut Esposito, (1973), McYenley and Mc Genley (1970) kelas yang homogen lebih efektif dan kelas yang heterogen baik dilihat dari segi kemampuan kognitif maupun kemampuan afektif. Anak yang berada dalam kelompok yang berkemampuan tinggi akan memandang rendah pada anak yang berada dalam kelompok yang berkemampuan rendah. Anak yang berkemampuan tinggi yang berada dalam kelompok yang heterogen akan memandang rendah bagi anggota yang berkemampuan rendah. Anak-anak yang ditempatkan pada kelompok homogen yang berkemampuan rendah akan cenderung lebih rendah dan anak yang ditempatkan dalam kelompok yang heterogen. Dampak negatif pada kelompok rendah adalah pada harga diri anak.

TEKNOLOGI KELAS

Tiap kelas pada umumnya benisi sejumlah meja dan kursi untuk siswa, satu almari dan sederet alat peraga yang terpampang di sudut kelas dan dinding kelas. Pada kelas-kelas di SD kondisi ini lebih syarat muatan dibanding dengan SLTP, dan SLTP lebih syarat muatan dibanding dengan SLTA. Pada pendidikan tinggi kondisi kelas boleh dibilang jauh dari muatan pada sekolah dasar. Sehingga anak-anak SD lebih tertutup dibanding dengan jenjang pendidikan yang lain, sebab segala sesuatu telah disediakan di kelas.

Penempatan duduk anak pada tiap kelas mencerminkan sikap guru terhadap siswa Penempatan tempat duduk banyak berkaitan dengan kemampuan anak, jenis kelainan anak. Anak yang pendek, dan kurang pendengarannya diletakkan di muka, anak yang suka usil dan mengganggu temannya ditempatkan dekat guru, anak putri ditempatkan di muka, anak yang berkelainan pendengaran ditempatkan di tengah. Demikian pula anak yang pandai ditempatkan ditengah-tengah yang kurang pandai. Penempatan ini di samping mempertimbangkan aspek moral, juga aspek strategi belajar mengajar, aspek kemampuan, aspek fisik dan aspek sosial. Aspek moral menyangkut pengontrolan guru terhadap tingkah laku siswa, aspek strategi belajar berkaitan dengan memilih cara mengajar yang memungkinkan siswa banyak terlibat dalam proses belajar mengajar, Aspek kemampuan kognitif berkaitan dengan mengefektifkan kemampuan anak untuk dapat membantu anak dalam proses belajar mengajar, Aspek fisik berkaitan dengan kemudahan interaksi siswa dengan siswa, dan guru dengan siswa. Aspek sosial menyangkut pola kerja sama dalam kelas.

Dilihat dari para ahli sosiologi maka perhatian para sosiolog banyak dicurahkan pada inovasi lingkungan responsif dan sekolah terbuka. (Sanapiah, TT, 210-215).

More dan Anderson (1969) telah mengadakan peneltian terhadap lingkungan yang responsif ini terhadap keberhasilan belajar. Di Indonesia juga telah diteliti oleh Conny Semiawan (1978) dengan istilah Lingkungan Belajar yang Mengundang (LBM) untuk anak retardasi mental. Lingkungan yang responsif merupakan perpaduan antara pengaturan ruangan dan perlengkapannya serta media belajar yang ada dengan tujuan agar dapat menarik, memberi kebebasan, bertindak, dan memisahkan siswa dari campur tangan guru, memberi kesempatan untuk dapat mengejar kecepatan pada diri sendiri dan memberi umpan balik secara langsung pada hasil kerjanya. Dari hasil penelitian More dengan menggunakan komputer adalah pada meningkatnya interaksi sosial. Anak yang belajar dengan mempergunakan komputer hasilnya akan meningkat jika Selama bekerja anak didampingi oleh guru. Oleh karena itu yang nampak penting di sini adalah tindakan untuk mendapatkan respon dan guru, bukan semata-mata penggunakan teknologi. Dan penelitian Conny Semiawan disimpulkan bahwa Lingkungan Belajar yang Mengundang dapat meningkatkan perkembangan mental anak retardisi mental.

Pengaturan serupa juga diterapkan pada kelas tebuka. Pengaturan ini memadukan antara elemen teknologi dan struktur sosial. Model kelas terbuka dibuat sedemikian rupa sehingga memungkinkan fleksibilitas dalam menggunakan ruangan fisik.
 
Silbermen (1972), Bart (1972), Epstein dan Parland (1976) dalam pendidikan pada kelas terbuka guru hanya menjalankan peranan komplementer dan tidak begitu banyak mengontrol perlengkapan, materi, tugas, kecepatan dan evaluasi. Oleh karena itu siswa mempunyai kesempatan yang besar dalam mengadakan interaksi, siswa mempunyai hak otonomi pengaturan waktu belajar di sekolah, kegiatan belajar menjadi beraneka ragam.

Dari berbagai penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) kelas terbuka merupakan salah satu bentuk inovasi pendidikan dalarm teknologi pengajaran yang tidak mengubah pola interaks dalam kelas. (Wilberg dan Thomas, 1972) (2) Dilihat dan jaringan sosial maka siswa-siswa pada kelas terbuka lebih akrab dengan semua orang bila dibandingkan dengan sekolah tradisional (Brody dan Zimmeerman, 1975). (3) Bila dibanding antara pendidikan tradisional dan kelas terbuka maka hasil tes kreativitas, harga diri, pengendalian diri dan perkembangan kognitif tidak berbeda, biarpun ada perbedaan untuk belajar terus-menerus pada sekolah terbuka lebih tinggi dari pada sekolah tradisional (Wriht, 1975, P. 461). (4) Situasi kehidupan kelas terbuka lebih menyerupai situasi kehidupan pada masyarakat bila dibandingkan dengan kelas tradisional.

KOMUNIKASI DALAM KELAS

Sepanjang hari-hari sekolah terjadi percakapan antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa. Dalam interaksi itu terjadi komunikasi. Dalam proses belajar mengajar terjadi penyampaian informasi.

Pola komunikasi dalam interaksi belajar mengajar ada bermacam WF Connell (1972, p. 244) membagi pola komunikasi dalam kelas itu ada 4 macam.
1.      Pola komunikasi satu arah: dalam pola komunikasi satu arah ini terjadi komunikasi, di mana guru menyampaikan informasi kepada sekelompok siswa. Siswa mendengarkan dan mencatat informasi dari guru. Antara guru dan siswa ada garis pemisah yang tegas.
 
2.      Pola komunikasi dua arah: dalam pola komunikasi dua arah terjadi interaksi. antara guru dengan siswa satu per satu. Antara guru dan siswa ada garis pemisah yang longgar. Siswa tidak hanya mendengar dan mencatat tetapi siswa sudah dapat bertanya dan menjawab pertanyaan guru.
 
3.      Pola komunikasi tiga arah: dalam pola komunikasi tiga arah ini terjadi interaksi antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa. Antara guru dan siswa ada garis pemisah yang longgar. Siswa tidak sekedar mendengar, mencatat bertanya dan menjawab pertanyaan guru, tetapi siswa dapat bertanya dan menjawab pertanyaan guru, tetapi siswa dapat bertanya dan menjawab pertanyaan siswa yang lain.
 
4.      Pola komunikasi ganda arah (multi dimensi): dalam pola komunikasi ganda arah ini terjadi interaksi antara siswa dengan siswa. Komunikasi dengan guru hanya bila perlu saja. Antara guru dan siswa tidak ada garis pemisah.
Jika keempat pola itu kita perhatikan maka pola kelima yang paling memberi kesempatan kepada siswa untuk memutuskan sendiri apa yang mau dipelajari secara bersama-sama dalam kelompoknya. Siswa dipandang sebagai individu yang dapat merencanakan apa yang akan dipelajari bersama. Guru sebagai sumber informasi hanya sebagai fasilitator dan dinamisator pada kehidupan kelompok.

SUASANA SOSIAL DALAM KELAS

Dalam kehidupan kelas terjadi komunikasi antara guru dan siswa dan antara siswa dan siswa. Interaksi dalam kelas tidak selalu berjalan dengan tenang, damai, tenteram, hangat, penuh keakraban dan sebagainya, akan tetapi sering juga terjadi situasi persaingan yang tidak sehat, pertentangan pendapat yang menjurus percekcokkan dan bahkan terjadi perkelahian.

Menurut para ahli sosiologi kondisi kehidupan semacam itu disebut iklim sosial atau suasana sosial (social climate) (Sanapiah Faizal, TT, p. 226). Richard Schmuh dan Patricia A Schmuch (1983) mengatakan bahwa istilah iklim kelas dapat berupa penerapan hubungan perasaan dalam pribadi yang diasosiasikan ke dalam pola-pola interaksi, seperti reaksi emosional terhadap kelompok, rasa puas terhadap kelompok dan rasa frustasi dan sebagainya.

Jadi iklim kelas merupakan suasana kelas di mana terjadi interaksi antar-slswa dan interaksi antara guru dan siswa secara pribadi. Interaksi ini dapat menimbulkan suasana kelas yang posistif dapat pula menimbulkan suasana kelas yang negatif.
 
Suasana kelas yang positif akan terjadi bila, terjadi interaksi dalam kelas antara guru dan siswa, antara siswa dan siswa, di mana dalam interaksi itu terjadi komunikasi dalam bentuk kerjasania, tolong-menolong, tenggang rasa antara anak yang pandai dan yang kurang pandai, antara yang kaya dan yang kurang mampu, norma-norma pergaulan hidup dan tata tertib kelas maupun sekolah dipatuhi dengan disiplin yang luwes, terjadi komunikasi yang terbuka. Hal ini berarti bahwa tiap peserta didik dan guru harus dijauhkan oleh rasa curiga-mencurigai, berani mengakui kesalahan, jika memang berbuat salah, siswa berani menyalahkan guru jika guru menjelaskan sesuatu yang salah. Pendek kata baik peserta didik maupun pendidik siap sedia dikritik dan mengkritik yang bersifat membangun. Dengan demikian akan terjadi suasana kelas yang selalu menyenangkan, hidup, di mana tiap orang berusaha menghargai dan menghargai martabat orang lain sebagaimana adanya bukan sebagaimana nampaknya.

Suasana kelas dipengaruhi oleh gaya (style) dan guru dalam interaksi di kelas. Jeanne H. Ballatinne (1983) membedakan gaya interaksi dalam kelas itu menjadi tiga gaya yaitu diktator, demokrasi dan liberal. Gaya interaksi diktator akan menimbuilcan siswa menjadi takut dan segala sesuatu berjalan dengan komando atau perintah dari guru. Suasana kelas menjadi kaku, dan mati. Suasana kelas tenang karena siswa dicekam rasa takut. Tujuan yang akan dicapai hanya diketahui oleh guru saja. Jika guru tidak ada di kelas suasana menjadi gaduh. Gaya guru yang liberal menimbulkan suasana kelas kacau, guru kurang wibawa, anak akan bertindak liar, dapat terjadi suasana yang sukar dikendalikan. Tujuan yang akan dicapai kurang jelas. Gaya guru yang demokratis dalam interaksi akan menimbulkan suasana yang diliputi oleh hubungan siswa dengan siswa secara tolong-menolong, tenggang rasa, guru dan siswa bekerja sesuai dengan peran masing-masing dalam interaksi belajar mengajar. Suasana kelas menjadi hangat dan menyenangkan, sehingga baik guru maupun siswa tahan tinggal di sekolah. Inisiatif tidak selalu timbul dan guru, tetapi kadang-kadang juga timbul dari siswa. Tujuan yang akan dicapai sama-sama diketahui siswa dan guru.

Dari hasil-hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Anderson yang dikutip WF Conneil (1972, p. 1944) menunjukkan bahwa suasana kelas yang hangat, akrab dan dominasi guru terhadap siswa longgar dapat menyebabkan timbulnya banyak partisipasi dalam kelas, memberikan kesempatan yang banyak bagi siswa untuk menyatakan pendapatnya, menimbulkan banyak pola-pola kerja sama antar siswa dan terjadi diskusi kelas yang sehat dan akhimya dapat meningkatkan prestasi belajar para siswa.

BERDASARKAN PENDAPATAN
Pendapatan Nasional
II.        Pendapatan     Nasional
1. Pengertian   Pendapatan     Nasional
Description: http://wardayadi.files.wordpress.com/2010/05/gdp-indonesia.jpeg?w=450Dalam ilmu ekonomi pendapatan nasional merupakan konsep yang menarik untuk
dipelajari. Setiap kegiatan ekonomi dalam suatu negara pasti berkaitan pendapatan
nasional. Tingkat perkembangan ekonomi suatu negara juga dapat dilihat    dari      pendapatan nasionalnya. Usaha-usaha pembangunan ekonomi yang    dilakukan        oleh     setiap   Negara pasti     diarahkan untuk meningkatkan untuk menstabilkan pendapatan nasional.
Pendapatan nasional adalah jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan        oleh suatu perekonomian dalam periode tertentu yang dihitung           berdasarkan     nilai     pasar.   Setiap negara memiliki suatu sistem perhitungan pendapatan nasional. Sistem tersebut
merupakan suatu cara mengumpulkan informasi perhitungan terhadap hal-hal sebagai
berikut.
a. Nilai berbagai ibarang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara
b. Nilai berbagai jenis pengeluaran atas produk nasional
c. Jumlah pendapatan yang diterima oleh berbagai faktor produksi yang digunakan            untuk menciptakan            produk nasional           tersebut.
2.Konsep-Konsep       Pendapatan     Nasional
Description: http://wardayadi.files.wordpress.com/2010/05/gdp-200-2009.jpg?w=300&h=206a. Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product (GDP)
Produk Domestik Bruto adalah jumlah nilai seluruh barang dan jasa yang diproduksi         oleh suatu negara dalam periode tertentu atau satu tahun termasuk      barang dan      jasa      yang diproduksi oleh perusahaan milik penduduk            Negara tersebut           dan      oleh     penduduk
negara lain yang tinggal di negara bersangkutan.
b. Produk Nasional Bruto (PNB) atau Gross National Product (GNP)
Produk Nasional Bruto adalah total nilai barang dan jasa yang diproduksi oleh       suatu    masyarakat suatu negara selama periode tetentu baik yang tinggal        di         dalam  negeri  maupun           diluar   negeri.
c. Produk Nasional Netto (PNN) atau Net National Product (NNP)
Produk Nasional Neto adalah produk nasional bruto dikurangi penyusutan barangbarang   pengganti modal dalam proses produksi.
d. Pendapatan Nasional Neto (Net National Income) = NNI
Pendapatan Nasional Neto adalah produk nasional neto dikurangi dengan  pajak    tidak langsung dan ditambah dengan subsidi
e. Pendapatan Perorangan (Personal Income = PI)
Pendapatan Perongan adalah seluruh jumlah seluruh penerimaan yang benar-benar sampai di tangan masyarakat ditulis dalam rumus: PI = NNI=transfer         payment          –          (laba ditahan + iuran asudanri + iuran jaminan            social   +         pajak    perseorangan)
f. Pendapatan Disposable/ setelah pajak (Disposible Income)
Pendapatan Disposible adalah pendapatan perseorangan setelah dikurangi dengan pajak penghasilan. Rumusnya: Disposible Income = Personal Income            –          Pajak   Penghasilan.
g. PDRB (Produk Domestik Regional Bruto)
Produk Domestik Regional Bruto adalah jumlah keseluruhan dari nilai tambah bruto yang berhasil diciptakan oleh seluruh kegiatan ekonomi yang berada pada suatu wilayah selama periode tertentu.
II. Metode Perhitungan Pendapatan Naisonal
Ada beberapa pendekatan untu menghitung pendapatan nasional antara lain           sebagai            berikut:
1.         Pendekatan     Pendapatan
Pendekatan Pendapatan (income a product) adalah suatu pendekatan dimana pendapatan nasional diperoleh dengan cara menjumlahkan pendapatan dari berbagai faktor produksi yang memberi sumbangan terhadap proses  produksi.
a.         Kompensasi     untuk   pekerja
Pekerja mendapat upah dan gaji serta penerimaan lain, seperti pemberian tunjangan pensiun, jaminan sosial, dan pendapatan lainnya.
b.         Keuntungan    Perusahaan
Merupakan pendapatan yang dihasilkan suatu perusahaan karena mengelola            sumber daya    yang    dimilikinya
c.         Pendapatan     Usaha  Perorangan
Merupakan pendapatan yang diterima dari enggunaan tenaga kerja dan hasil           usaha   orangan,          seperti            petani
d.         Pendapatan     Sewa
Merupakan balas jasa yang diberikan pada pemilik sumber daya yang digunakan    untuk   kegiatan           ekonomi

Tujuan penghitungan pendapatan nasional untuk mengukur tingkat kemakmuran suatu negara dan mendapatkan data-data terperinci mengenai seluruh barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara dalam waktu satu tahun. Manfaat yang diperoleh dari penghitungan pendapatan         nasional           adalah  sebagai            berikut:
Mengetahui dan menelaah kondisi atau struktur perekonomian
Dari perhitungan pendapatan nasional, kita dapat menggolongkan suatu negara sebagai negara industri, pertanian atau jasa.

BERDASARKAN KESEHATAN
Definisi kesehatan menurut WHO adalah suatu keadaan sehat jasmani, rohani, dan sosial yang merupakan aspek positif dan tidak hanya bebas dari penyakit serta kecacatan yang merupakan aspek negatif.
Pender, Murdaugh, dan Parsons ( 2006 ) mendefinisikan kesehatan sebagai perwujudan potensi manusia intrinstik dan ekstrinsik melalui tingkah laku yang diarahkan oleh tujuan hidup, perawatan diri yang kompeten, dan hubungan dengan orang lain yang memuaskan, dengan penyesuaian yang dilakukan untuk mempertahankan integritas struktural dan harmoni dengan lingkungan.
Seseorang dikatakan dalam rentang sehat jika kebutuhan holistik ( fisiologis, spiritual, psikologis, dan sosial ) dan kebutuhan dasarnya ( fisiologis, rasa aman, kasih sayang, harga diri, dan aktualisasi diri ) telah terpenuhi. Jika salah satunya tidak terpenuhi maka belum dapat seseorang itu dikatakan dalam rentang sehat.


A.    KESEHATAN MASYARAKAT
Pengertian Kesehatan Masyarakat Menurut Winslow (1920) bahwa Kesehatan Masyarakat (Public Health) adalah Ilmu dan Seni : mencegah penyakit, memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan, melalui “Usaha-usaha Pengorganisasian masyarakat“  untuk :
1.      Perbaikan sanitasi lingkungan
2.      Pemberantasan penyakit-penyakit menular
3.      Pendidikan untuk kebersihan perorangan
4.      Pengorganisasian pelayanan-pelayanan medis dan perawatan untuk diagnosis dini dan pengobatan.
5.      Pengembangan rekayasa sosial untuk menjamin setiap orang terpenuhi kebutuhan hidup yang layak dalam memelihara kesehatannya. (Notoatmodjo, 2003)
Menurut Ikatan Dokter Amerika (1948) Kesehatan Masyarakat adalah ilmu dan seni memelihara, melindungi dan meningkatkan kesehatan masyarakat melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat. Dari batasan ini dapat disimpulkan bahwa kesehatan masyarakat itu meluas dari hanya berurusan sanitasi, teknik sanitasi, ilmu kedokteran kuratif, ilmu kedokteran pencegahan sampai dengan ilmu sosial, dan itulah cakupan ilmu kesehatan masyarakat.
Ada beberapa persoalan kesehatan di masyarakat, antara lain:
1.      Keadaan demografi, jumlah penduduk yang banyak dan tidak merata. Ini  merupakan suatu tantangan dalam pembangunan kesehatan.
2.      Pendidikan yang tidak memadai.
3.      Tingkat ekonomi, tingkatan pendapatan yang rendah menyebabkan sebagian besar warga tidak dapat menikmati pelayanan kesehatan.
4.      Dampak implikasi dari adanya kegiatan pembangunan, di satu sisi tidak saja mendatangkan manfaat tetapi juga menimbulkan efek samping, juga perubahan masyarakat yang terlalu cepat tanpa diiringi dengan perubahan masyarakat yang terlalu cepat tanpa diiringi dengan perubahan sikap, biasanya akan menimbulkan konflik. Misalnya : over gizi, penggunaan obat-obat terlarang
5.      Persoalan fasilitas kesehatan, bagi kita  fasilitas kesehatan masih sangat jauh dari kebutuhan, jumlah puskesmas tidak memadai. Misalnya satu puskesmas harus melayani 30.000 orang penduduk.
a.       Walaupun setiap saat pemerintah juga melakukan pembangunan berbagai fasilitas namun kenyataannya fasilitas yang ada tetap belum memadai. Ini terbukti dari jumlah orang yang sakit pada tahun 1971, yang mendapat pengobatan hanya 55%, tahun  1980 meningkat menjadi 74%. Ini di buat oleh pemerintah, pelayanan pemerintah untuk melayani orang sakit pada tahun 1980 itu berjumlah 44%.
    1. Orang yang menangani penyakitnya sendiri juga terjadi peningkatan, berarti di sisni terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan. Sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pelayanan kesehatan. Tetapi ini  juga mempunyai resiko terhadap penyalahgunaan obat-obatan dan ketidak tepatan dalam dosis pengobatan.
6.      Masalah tenaga kerja di bidang kesehatan, kita sampai saat ini masih kekurangan tenaga kerja di bidang kesehatan, kita baru mempunyai tenaga kesehatan kurang dari 150.000 TK untuk melayani 170 juta jiwa. 4000 tenaga medis termasuk tenaga dokter 1500 orang, dokter di 12 universitas.
7.      Persoalan biaya kesehatan, pemerintah hanya mampu mengeluarkan biaya kesehatan masyarakat Rp 2500-2600 perkapita/tahun. Sedangkan kalau di hitung biaya kesehatan yang harus di keluarkan oleh masyarakat indonesia Rp 10.000 perkapita/tahun, berarti lebih dari 50% biaya kesehatan masyarakat harus di tanggulangi oleh masyarakat harus di tanggulangi oleh masyarakat. Dari APBD untuk bidang kesehatan Indonesia baru berkisar 2,2%. Kalau di hitung secara keseluruhan  anggaran belanja negara kita masih jauh jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Seperti : Burma 6,7%, Srilanka 7,5%, dan Bangladesh 4%. Akibat dari anggaran yang sangat terbatas ini tenaga medis harus menuntut banyak dari masyarakat.
8.      Masalah sarana obat-obatan , di satu sisi kita memang sudah mampu memproduksi obat-obatan lebih dari 90%. 90% dari obat-obatan yang beredar sudah di produksi di dalama negeri. Tetapi di sisi lain lebih dari 95% komponen obat harus di impor dari luar. Keadaan ini tentu membuat harga obat dalam negeri menjadi tinggi dan di dunia juga lebih tinggi. Sebagian besar dari pengelolaan obat dilakukan oleh pihak swasta, hampir mencapai 90% produksi dan distribusinya dilakukan oleh swasta, pemerintah hanya mampu melayani kebutuhan obat hanya mencapai 10%.
9.      Masalah gizi, di samping persoalan kekurangan gizi yang di sebabkan oleh faktor ekonomi, juga masalah gizi yang di sebabkan faktor pengetahuan dan pendidikan yang tidak memadai ke-2 pesoalan tadi (kekurangan gizi dan salah gizi) juga bisa di sebabkan  oleh kebiasaan dan tradisi yang ad dalam masyarakat dengan demikian masalah kesehatan dalam masyarakat sangat di pengaruhi oleh berbagai komponen, di samping komponen bawaan, juga di pengaruhi oleh keadaan kesehatan, prilaku-prilaku pelayanan kesehatan, juga di pengaruhi oleh lingkungan fisik (pencemaran) dan di pengaruhi juga oleh sosial budaya masyarakat yang bersangkutan.

B.     KELAS SOSIAL
Kelas sosial atau golongan sosial merujuk kepada perbedaan hierarkis (atau stratifikasi) antara insan atau kelompok manusia dalam masyarakat atau budaya. Biasanya kebanyakan masyarakat memiliki golongan sosial, namun tidak semua masyarakat memiliki jenis-jenis kategori golongan sosial yang sama. Berdasarkan karakteristik stratifikasi sosial, dapat kita temukan beberapa pembagian kelas atau golongan dalam masyarakat.


C.    SOSIAL BUDAYA KESEHATAN
Secara sosiologis, individu merupakan representasi dikehidupan lingkungan sosialnya. Segala yang  terjadi di lingkungan sosialnya di amati, di pelajari, dan kemungkinan di intregasikan dan di internalisasi sebagai bagian dari kehidupannya sendiri. Setiap individu memiliki identitas sesuai lingkungan sosialnya. Apa yang di lakukan, gagasannya, perasaannya merupakan hasil pembentukan lingkungan sosialnya.
Lingkungan sosial secara nyata juga mempengaruhi perilaku sehat dan sakit. Peran sehat dan sakit juga berkaitan dengan nilai sosialnya.individu akan berperan seht atau sakit. Diantara factor lingkungan sosial yang sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan mental adalah stratifikasi sosial, pekerjaan, keluarga, budaya, perubahan sosial, stressor psikososial. 

1.      STRATIFIKASI SOSIAL
Masyarakat kita terbagi menjadi keelompok tertentu diantaranya jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, status sosial. Di tinjau dari status sosial banyak pendekatan yang di gunakan untuk melakukan klasifikasi..secara umum klasifikasi status sosial itu dikelompokan atas stratanya yang dikelompokan atas; strata tinggi, menengah, rendah.
a)      Kelas Sosial Ekonomi dan Revalensi Gangguan Mental
Setiap kelas sosial itu memiliki cara hidup dan interaksi sosial tersendiri termasuk dalam soal mempersepsikan dan menangani segala persoalan kehidupanya. Gangguan mental merupakan salah sau malah di masyarakat yang memperoleh perhatian dari para ahli untuk dikaji dari aspek strata sosial masyarakatnya. Berdasarkan penelitian dikrtahui bahwa stratifikasi sosial yang ada di masyarakat ternyata berhubungan dengan jenis ganngguan mentalnya. Terdapat distribusi gangguan mental secara berbeda antara kelompok masyarakat yang berada pada strata sosialyang tinggidengan strata sosial yang rendah. Dalam berbagai study dipahami bahwa keelompok kelas sosial rendaah lebih besar prevelansi gangguan psikiatrinya disbanding dengan kelomopk sosial tinggi.
b)      Status Sosial Ekonomi dan Pola Gangguan    
Status sosial ekonomi juga berkaitan dengan pola gangguan psikiatrik. Berdasarkan penelitian Holingshead diketahui bahwa masyarakat  kelas sosial rendah diketahui tingginya prevelansi psikotik, sedangkan prevelansi neurotic lebih banyak pada kelompok kelas. Kesimpulan itu tidak berlakku untuk psikotik jenis drepesi karena prevelasinya lebih banyak terjadi pada kelompok masyarakat kelas sosial yang tinggi.

Penelitian yang lebih spesifik, yaitu insidendi skizofenia dalam kaitanya dengan status sosial dilkukn oleh Dunham, memberikan kesimpulannya yang mendukung kesimpulan Holingshead itu. Jika dikaitkan denganjenis gangguan yang di alami, secara jelas dikemukakan oleh Dunham ini adalah:
a)      Gangguan neurosisdan depresif lebih banyak dialami oleh kelompok sosial ekonomi tinggi dan sedikit dari kelompok sosial ekonomi rendah.
b)      Sakit mental ( psikosis ) sebaliknya, prevalensinya lebih banyak dialami oleh kelompok soial ekonomi rendah dan tidak banyak dialami oleh kelompok sosial ekonomi tinggi.
c)      Seleksi sosial lawan sebab sosial
Ada dua hipotesa yang menjelaskan fenomena ini sebagaimana dikemukakan  Dohrenwend,  yaitu hipotesis seleksi dan hipotesis sebab sosial.

a.  Hipotesis seleksi sosial
Hipotesis seleksi sosial menjelaskan bahwa seseoran yang mengalami gangguan mental membuat diaa menjadi miskin. Yang terjadi adalah peluncuran kebawah dari stsatus sosial tinggi ke status sosial  yang rendah. Yang meyebabkan seseorang mengalami gangguan mental menurut teori teori seleksi sosial ini karena factor psikologis, genetik, konstiusi.
Pertama orang yang mengalami gangguan mental akan terjadi penurunan kemampuan kerja dan sosial, sehigga tida mampu berkompeteensi dalam mempertahankan hidpnya. Merekayang sembuh keskitannya ika bekerja akan ditempatkan pada posisi yang sesuai yaitu status pekerjaan yang dibawahnya sehingga penghasilan menurun dan mmbuat dia berstatus sosial rendah. Kedua orang yang mengalami gangguan metal secara aktif akan mecari lingkungan sosial yang sesuai untuk menerima kondisinya.

b. Hipotesis sebab sosial
Hipotesis sebab sosial menjelaskan bahwa orang yang  miskin memang memiliki kecenderungan untuk sakit mental. Masyarakat dari kelas sosial ekonomi rendah, menurut hipotesis ini, lebih rentan jatuh sakit karena dua kemungkinan :
1. Sifat kecenderungan personal ang dimilikinya sepeti; perasaan tidak berdaya dan kurang pengendaliantrhadap dirinya sendiri.
2. Kondisi sosialnya seperti kekurangan memperoleh doronggan dari orang lain.  

Dunham adalah pihak yang tidak menyepakati factor ekonomi sebagai penyebab gangguan psikiatris khususnya skizofrenia. Berdasarkan study nya dia mengemukakan kemiskinan merupakan tdak selalu menimbulkan sakit mental. Yang terjadi sebaliknya bahwa orang yangmenderita skizofrenia memang menunjukkan kelas sosial ekonomi yang rendah, bukan orang yang berstatus sosial ekonomi rendah menjaadi skizofrenia. Namun demikian Dunham menetapkan secara pasti apakah hipotesis yang pertama lebih kuat dibandingkan dengan hipotesis kedua yang menyangkut  hubungan status sosial ekonomi dengan gejala gangguan mental tidak dapat dipastikan.     

2.  INTERAKSI SOSIAL 
Interaksi sosial baanyak dikaji dalam kaitanya dengan gangguan mental. Ada dua pandangan interksi sosial ini. Pertama, teori psikodinamik mengemukakan bahwa orang yang mengalami gangguan emosional dapat berakibatkan pada pengurangan interaksi sosial,hal ini dapat diketahui dari perlaku regresi sebagai akibat dari adanya sakit mental. Kedua, bahwa rendahnya interaksi sossiaal itulah yang menimbulkan adanya gangguan mental.
Faris dan Dunham berpandangan bahwa interaksi kualitas sosial sangat mempengaruhi kesehatan mental. Lingkungan kehidupan, setidaknya soal tempat tinggal berhubungan dengan problem kesehatan mental ini.  Tempat tinggal dapat memberi peluang untuk meningkatkan hubungan interpersonal sementara pola tempat tinggal tertentu dapat mengambat dan menimbulkan kesulitan untuk hubungan interpersonal selain itu mereka juga berpandangan bahwa tempat  tinggal yang tersolasi dari kehidupan hubungan interpersonal diyakini dapat meningkatkan insidesi psikosis, schizophrenia.
Hal ini secara sosial terisolasi, tempat tinggal yang terisolasi secara sosial tidak hanya karena jarak yang jauh satu dengan yang lain tetapi menyangkut apakah tempat tinggal itu sendiri memberi suasana yang mampu menciptakan hubungan  interpersonal atau tidak. Clausen dan Kohn mengemukakan bahwa  ada empat macam tempat tinggal yang dipandang menimbulkan pengalaman terisolasi secara sosial sebagai berikut:
1.      Hidup di dalam tempat tinggal yang menghasilkan  atau menibulkan isolasi sosial karena tempat tinggal itu terus menerus berubah.     
2.      Hidup adalah wilayah kelompok etnis lain
3.      Hidup dalam masyarakat di lingkungan kumuh, keturunan asing yang kasar,atau dimasyarakat yang kopettif yang berakibat isolasi sosial, khususnyabagi orang sensitf, suka mengalah ataumalu malu
4.      Dalam lingkungan keas sosil rendah, umumnya kurrang asertif pada anak. Jika tidak menjalin hubungan degan yang lainnya maa dia  akan  terisolasi secara sosial. 

3. KELUARGA
Keluarga merupakan lingkungan sosial yang sangat dekat hubungannya dengan seseorang. Keluarga itu seseorang dibesarkan, bertempat tinggal, bernteraksi atau dengan katalain dibentuknya nilai nilai, pola pikir, dan kebiasaannya. Keluarga juga berfungsi sebagai seleksi segenap budaya luar dan medasi hubungan anak dengan lingkunganya. Keluarga yang lengkap dan funngsional serta mampu membentuk homeostasis akan dapat meningkatkan kesehatan mental para anggota  keuargnya, dan kemungkinan dapat meningkatkan ketahanan para anggota keluarganya dari adanya gangguan mental dan ketidakstabilan emosional para anggotanya.
Dalam pandangan psikodinamik keluarga merupakan ligkungan sosial yang secara langsung mempengaruhi individu. Keluarga merupakan ligkungan mikrosistem, yang menentukan kepribadian dan kesehtan mental anak, keluarga lebih dekat hubungannya dengan anak dibandingkan dengan masyarrakat luas karena itu dapat digambarkan hubungan ketiga unit itu sebagai anak keluarga dan masyarakat, artinya masyarakat menentukan keluarga dan keluarga menentukan individu. Banyak sekali kondisi keluarga yang justru menjadi hazard begi setiap anggota keluarganya dan tentunya berisiko bagi terganggunya anggotanya. Kondisi keluuarga yang menjadi hazard antara lain:
1.      Perceraian dan Perpisahan
Dikarenakan berbagai sebab antara anak dan orang tua menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan perilaku dan kepribadian anak. Kesimpulannya bahwa perceraian atau perpisahan dapat berakibat buruk pada perkembangan kepribadian anak.


2.      Keluarga yang Tidak Profesional
Keluarga yang tidak berfungsi menuju pada keadaan keluarga tetap utuh,terdiri dari kedua orng tua dan anak anaknya. Mereka masihmenetp di satu rumah , jadi strukturnya tidak mengalami perubahan. Hanya fungsinya yang tidak dapat berjalan. Faktor fungsi keluarga ini menjadi lebih penting daripada perceraian dan perpisahan, bagian ini jauh lebih berakibat buruk pada perkembangan anak.
3.      Perlakuan dan Pengasuhan
Perlakuan orang tua pada anak berkaitan dengan apa yang dilakukan ortu atau anggota keuarga lain kepadaanak. Apakah dibiarkan diperlakuan secara kasar atau dimanfaatkan secara salah atau diperlakukan secara penuh toleransi dan menciptakan iklim yang sehat. Semuanya mempengaruhi perkembangan pada anak dan juga mungkin berpengaruh pada anggota keluarganya secara keseluruhan. Kondisi keluarga yang tidak kondusif akan berakibat gangguan mental bagi anak di antaranya gangguan tingkah laku, kecemasan, mbang dan beberapa gangguan jiwa lainnya.

D.    PERUBAHAN SOSIAL
Perubahan sosial selalu terjadi di lingkungan kita. Tidak ada suatu masyarakat yang tidak mengalami prubahan sosial, termasuk di masyarakat yang terasingpun. Perbahan sosial itu dapat berlangsung dengan sangat cepat dan ada pula perubahan yang sangat lambat. Dalam masyarakat modern perubahan sosial itu sangat mencolok, dan terjadi di berbagai bidang kehidupan. Terjadinya industrialisasi,kemajuan media komunikasi, perubahan sistam ekonomi, system sosial dan politik yang terus berlansung menimbuan perubahan sosial. Di negara maju perubahan itu secar nyata dirasakan sejak terjadinya revolusi industru pada abad pertengahan.
Di negara berkembang  seperti Indonesia, perubahan sosial terjadi sejak orde pembangunan yang di tunjukkan dengan pembangunan industri secara besar besaran yang diikuti oleh banyaknya urbanisasi dengan segala konsekuensinya termasuk bergesernya pola keluarga dan pengasuhan, interaksi sosial , perubahan nilai nilai sosial masyarakatnya. Tentunya, perubahan sosial ini akan berlangsung dan akan terjadi secara cepat. Dampak positif dari perubahan sosial bagi masyarakat industrialisasi dapat meningkatkan status sosial karena mereka dapat memanfaatkan pembangunan industri sebagai lapangan pekerjan baru dan kemungkinan mereka terdorong untuk meningkatkan pendidikanya sehingga dapat memperoleh pekerjaan yang diinginkan industri itu.
Selain itu adapula dampak negatifnya yaitu perubahan itu membawa aplikasi terhadap berbagai aspek kehidpn lain seperti adanya aturan dan nilai baru dan berdampak bagi perubahan aturn dan nilai dan struktur sosial itu tidak di kehendaki  oleh masyarakatnya. Karena itu perubahan sosial itu dapat menjadi tantangan dan dapat pla menjadi hambatan baagi masyarakat untuk menyesuaikan diri. Sehubungan dengan perubahan sosial ini terdapat dua kemungkinan yang dapat terjadi. Perubahan sosial dapat menimbulkan kepuasan bagi masyarakatnya karena sesuai dengan  yang diharapkan dan dapat meningkatkan keutuhan masyarakatnya, dan hal ini sekaligus meningkatkan kesehatan mental.
Namun di sisi lain, dapat pula berakibat masyarakatnya mengalami  kegagalan dalam penyesuaian terhadap perubahan itu akibatnya mereka memanifestasikan kegagalan penyesuaian itu dalam bentuk yang patologis, misalnya tidak terpenuhinya tuntutan politik, suatu kelompok masyarakat melakukan tindak pengrusakan dan penjarahan.

1. Perubahan jangka panjang
Perubahan sosial yang bersifat jangka panjang merupakan perubahan perubahan yang terjadi akibat industrialisasi, perubahanmedia komunikasi dari yang tradisional ke sistem modern, kemajuan di bidang teknologi dan perubahan system ekonomi. Dalam kesehatan mental disadari bahwa perubahan sosial yang jangka panjang itu juga ada pengaruhnya. Karena perilaku sosialnya dipengaruhi dipengaruhi maka aspek kesehatan mental kita pun turut dipengaruhi.



2.  Migrasi: Sebagai Dampak Masyarakat Industri
Industrialisasi selalu menimbulkan migrasi. Dalam migrasi itu, tidak selalu terjadi proses penyesuaian dengan kehidupan di lingkungan yang baru. Migrasi, tidak hanya pindah secara fisik bagi individu, sekaligus terjadinya suatu perubahan sosial. Karena terjadi migrasi, maka mereka harus meninggalkan sistem keluarganya dan menjalankan pola keluarga baru.
Dalam penelitian konvensional yang menyangkut hubungan migrasi dengan kesehatan mental, ditemukan terdapat pengaruh migrasi terhadap keseahtan mental. Dilihat dari angka insidensi masuk rumah sakit, orang - orang migrant lebih banyak mengalami ganbgguan mental migrasi dibandingkan dengan penduduk aslinya. Demikian juga perbandingan angka insidensi pada anak - anak mereka yang masuk rumah sakit, gangguan mental lebih banyak dialami oleh anak - anak dari kalangan pendatang ketimbang penduduk asli. Hal itu menunjukkan bahwa migrasi itu pada dasranya memepengaruhi kesehatan mental.

3.  Kondisi Krisis
Kondisi krisis banyak terjadi di masyarakat, diantaranya perang, bencana, atau peristiwa yang dapat menimbulkan krisis bagi masyarakat seperti krisis ekonomi. Sama halnya dengan kondisi krisis yang lain, tampaknya krisis itu tidak berpengaruh pada gangguan psikosis, tetapi pengaruhnya kepada gangguan neurosis. Seperti halnya krisis moneter dan ekonomi yang terjadi di Indonesia, dalam kurun satu tahun angka masuk rumah sakit jiwa karena psikotik relatif stabil, tetapi gangguan non psikotik meningkat sangat tajam seperti tingkah laku antisocial termasuk juga perilaku deviasi soaial untuk perilaku agresivitas dan kriminalitas.

E.     SOSIAL BUDAYA
Hubungan kebudayaan dengan kesehatan mental dikemukakan oleh Wallace, 1963 yang meliputi tiga hal, yaitu:
1.       Kebudayaan yang mendukung dan menghambatkesehatan mental.
2.       Kebudayaan memberi peran tertentu terhadap penderita gangguan mental
3.       Berbagi bentuk gangguan mental karena faktor cultural
4.       Upaya peningkatan dan pencegahan gangguan mental dalam telaah budaya
Dalam kaitannya dengan kesehatan mental, kebudayaan ada yang memberikan dukungan bagi peningkatan kesehatan mental dan sebagian lagi justru sensitif bagi angka insiden dan lamanya gangguan kesehatan mental. Salah satu contoh gangguan mental karena faktor budaya adalah amok. Amak ini adalah psikosis yang ditandai oleh tindakan yang secara tiba - tiba mengamuk, berteriak, merusak, dan dapat pula membunuh. Gangguan ini disebabkan oleh faktor yang membatasi remaja dan orang dewasa mengekspresiksan emosi - agresinya dengan menanamkan rasa malu.

F.      STRESSOR PSIKOSOSIAL LAIN
Ilfeld (1977) menjelaskan situasi dan kondisi peran sosial sehari - hari dapat menjadi sebagi masalah atau sesuatu yang tidak dikehendaki, dan karena itu dapat berfungsi sebagai stressor sosial. Meskipun kekuatan pengaruhnya terhadap kondisi mental stressor sosial itu kuat atau lemah ada kontribusinya.
Faktor sosial lain dapat menghambat kesehatan mental seseorang, di antaranya konflik dalam hubungan sosial, perkawinan, meninggalnya keluarga dekat. Stressor psikososial ini secara umum menimbulkan efek negatif bagi orang yang mengalaminya. Namun demikian tentang variasi stressor psikososial ini akan berbeda untuk setiap masyrakat, bergantung kepada kondisi sosial masyarakatnya.

G.    PENGARUH KELAS SOSIAL TERHADAP PENINGKATAN DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT
Pengaruh kelas sosial ini dapat dilihat dari tiga aspek :
a.       Kelas Sosial Bawah
Kesehatan kelas sosial golongan ini kurang berkembang dan tidak terjamin  karena pengaruh dari ekonomi masyarakat yang masih di bawah rata-rata. Apalagi di lapangan , misalnya di sebuah rumah sakit kelas sosial ini terkesan tidak dipedulikan dan pihak rumah sakit lebih mendahulukan yang ekonominya di atas rata-rata. Selain itu, golongan ini lebih memilih obat yang harganya lebih murah atau mereka hanya menggunakan obat-obat tradisional. Sehingga menyebabkan golongan ini rentan terhadap penyakit dan menghambat peningkatan derajat kesehatannya.
b.      Kelas Sosial Menengah
Pada golongan ini kesehatannya sudah mulai membaik sejalan dengan ekonominya yang lebih baik dari kelas sosial bawah. Sebagian dari golongan ini sudah memahami pentingnya kesehatan dan sudah mulai menggunakan obat-obatan yang modern, namun dengan harga yang belum terlalu mahal. Peningkatan derajat kesehatan ini lebih cepat daripada kelas sosial bawah.
c.       Kelas Sosial Atas
Golongan ini sudah memahami pentingnya kesehatan dan betapa merugikannya suatu penyakit. Ekonomi golongan ini di atas rata-rata sehingga peningkatan kesehatannya berkembang dengan cepat. Kesehatan golongan ini sudah terjamin karena mereka cepat mengikuti perkembangan zaman. Pengobatan golongan ini kebanyakan sudah menggunakan teknologi sehingga penyakitnya dapat di atasi dengan cepat, misalnya dalam kecantikan golongan ini kebanyakan sudah menggunakan laser yang dapat mengatasi masalah pada wajahnya, padahal belum tentu dengan menggunakan laser tersebut baik untuk kesehatan kulitnya.
Namun masih ada juga bagian dari golongan ini yang acuh terhadap kesehatannya padahal mereka sudah memahami pentingnya kesehatan. Hal ini dapat disebabkan karena kesibukan mereka dalam pekerjaan sehingga mereka tidak memiliki waktu untuk menjaga kesehatanya. Selain itu, golongan ini cenderung menginginkan sesuatu yang lebih cepat atau instan, dan mereka tidak memikirkan efek samping dari hal tersebut. Yang mungkin akan lebih memperburuk kesehatan mereka.

H.    PENGARUH ETNISITAS TERHADAP DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT
Pengaruh etnisitas ini terdiri dari dua aspek , yaitu :
1.      Masyarakat Primitif
Masyarakat primitif ini jika dilihat dari sistem pengobatannya, lebih ke pengobatan yang tradisional. Kurangnya pengetahuan tentang pemahaman mengenai bagaimana cara pengobatan yang semestinya sesuai dengan sistem medis yang ada. Bukan berarti pengobatan tradisional itu salah, tapi ada cara yang lebih efisien dan efektif untuk dilakukan yaitu dengan menggunakan teknologi medis yang sangat canggih.
2.      Masyarakat Modern atau Perkotaan
         Masyarakat modern telah menggunakan pengobatan yang canggih yaitu dengan melakukan pengobatan di rumah sakit. Mereka lebih cenderung memilih alternative yang cepat untuk mengubah status sakit mereka ke status sehat, walaupun mereka harus mengeluarkan banyak uang demi penyembuhannya. Mengapa demikian ? karena mereka tahu akan pengetahuan medis walaupun mereka bukan orang medis. Di sini, latar belakang pendidikan juga berperan penting. Karena semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin banyak pula pengetahuan yang mereka dapat.




0 komentar:

Posting Komentar