KELAS SOSIAL DILIHAT DARI SUDUT PANDANG
PENDIDIKAN PENDAPATAN DAN KESEHATAN
PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT
KELAS SEBAGAI SISTEM SOSIAL
Marilah kita perhatikan suatu kelas. Tiap-tiap kelas mempunyai
struktur hierarki. Di sana ada guru ada juga siswa, ada pengurus kelas, ada
tata tertib, ada jadwal dan sebagainya. Dalam kelas ada interaksi antara guru
dengan guru, antara siswa dengan siswa. Oleh karena kehidupan kelas sama dengan
kehidupan sosial. Kehidupan kelas sebagai kehidupan sosial dapat dipandang
sebagai kehidupan menurut sistem sosial.
Philip Jacson menyatakan bahwa kelas dalam beberapa hal bisa dipersamakan dengan kerumunan orang yang berjejal-jejal para individu. Karena kondisi yang demikian ini maka guru dipacu untuk mengadakan pendisiplinan dan pengontrolan terhadap para siswa. (Sanapiah Faizal, TT, p. 195). Pendisiplinan dan pengontrolan ini dimaksudkan oleh guru agar siswa tidak bertindak semena-mena, kehidupan kelas dapat berjalan sesuai dengan aturan yang telah disepakati bersama. Aturan-aturan dapat dilaksanakan dengan baik jika di sana ada hirarki otoritas yang memiliki suatu kekuasaan dan pembawaan yang telah melembaga. Aturan-aturan dapat berjalan secara baik jika ada serangkaian kegiatan yang melembaga secara teratur dan tetap (rutin).
Dalam rangka membahas kelas sebagai sistem sosial dan segi dinamika sosial Sanapiah Faizal dengan mempergunakan sumber dari Sarane Spence Boocock (1980) mengajukan lima aspek yang perlu diperhatikan. Lima aspek berorientasi pada fungsi kelas sebagai lingkungan belajar yaitu (1) ukuran kelas, (2) komposisi sosial kelas, (3) teknologi kelas, (4) struktur komunikasi, dan (5) suasana sosial.
UKURAN KELAS
Ukuran kelas merupakan persoalan yang banyak dibicarakan. Besar kecilnya kelas berkaitan dengan berbagai pertimbangan. Bagi sekolah-sekolah swasta pertimbangan jumlah siswa banyak ditentukan oleh biaya yang dibutuhkan untuk mengelola satu kelas dan aturan yang berlaku. Sekolah-sekolah negeri berorientasi pada daya tampung dan aturan yang berlaku. Menurut aturan yang berlaku jumlah kelas ditentukan oleh rasio guru dan siswa. Seorang guru sebaiknya menghadapi 25 sampai 35 siswa.
Bila dipandang dari segi guru maka kelas yang kecil adalah menyenangkan. Makin kecil kelas yang dihadapi oleh seorang guru akan memperingan beban kerja yang dihadapi oleh seorang guru. Kelas yang kecil mudah pengelolaannya, sehingga kelas dapat dikontrol dengan baik. Tugas guru yang berkaitan dengan koreksi pekerjaan ujian dan pembuatan laporan menjadi ringan.
Besar kecilnya kelas bila dikaitkan dengan efektivitas dan efisiensi belajar masih banyak diragukan. Jumlah siswa yang kecil itu hannya efektif bagi siswa yang berkemampuan rendah. Bagi siswa-siswa yang kemampuan tinggi jumlah siswa tidak berpengaruh terhadap prestasi belajar (Porwell, 1978). Oleh karena itu kelas kecil cocok untuk siswa-siswa yang berkelainan terutama anak yang berkelainan mental. Sekolah sekolah untuk anak yang berkelainan rata kelasnya kecil antara 5 sampal 10 siswa. Dilihat dari segi efisiensi kelas yang kecil terlalu banyak pemborosan. Biaya dan tenaga yang dikeluarkan tidak seimbang. Biaya dan tenaga yang dikeluarkan tidak sesuai.
Jika perbedaan ukuran kelas hanya kecil umpama 1, 2, atau 3 orang siswa maka pengaruh terhadap basil belajar siswa sangat kecil. Perbedaan sepuluh sampai lima belas siswa mungkin dapat menyebabkan perbedaan hasil belajar.
Kelas yang besar dapat dibagi dalam subkelornpok-subkelompok.
Pembagian kelas menjadi kelompok kelompok ini telah banyak dikerjakan baik yang
secara langsung ditangani guru maupun ditangani oleh siswa sendiri. Banyak para
guru membentuk kelompok-kelompok belajar.
Menurut Mc Keanie yang dikutip Sanapiah Faizal menyatakan bahwa besar kecilnya kelas mempunyai dua konsekuensi. Pertama menambah jumlah siswa dalam kelas berarti menambah informasi yang bersumber dari para siswa. Kedua dengan tambahnya siswa maka guru tidak mungkin memperhatikan semua siswa. Demikian pula partisipasi siswa tidak akan merata. Semua anak dipandang sama pada setiap individu berbeda-beda.
Pembagian kelompok yang baik antara tiga sampai sembilan siswa. (Weick, 1969, p. 24-25). Kelompok yang terdiri dua orang akan terjadi kesatuan dasar tingkah laku yang disebut dwitunggal. Dalam kesatuan dwitunggal akan muncul adanya interaksi yang saling tergantung, gotong royong dan saling bantu membantu. Kelemahannya adalah tidak mengontrol. Jumlah kelompok tiga siswa dapat menimbulkan interaksi saling tergantung dan ada kontrol dari orang ketiga. Penambahan menjadi empat kelompok dapat timbul persekutuan dwitunggal sehingga kehilangan unsur kontrol dalam kelompok. Jumlah 9 untuk kelompok jumlah yang baik karena dapat dibagi menjadi tiga sub kelompok yang terdiri dan tiga kesatuan tritunggal yang masing-masing kelompok dapat mempunyai unsur kontrol dan masing-masing subkelompok dapat menjadi kontrol terhadap subkelompok yang lain.
KONTEK SOSIAL KELAS
Marilah kita perhatikan susunan siswa dari suatu kelas. Kelas pada suatu sekolah di desa dan di kota akan lain, jika dilihat dari ras, suku, dan agama, akan tetapi bila dilihat dari segi umur dan jenis kelamin akan sama komposisinya.
Jika dilihat dari jenis kelamin maka kelas akan menampakkan sifat yang heterogen. Sebab tilap kelas akan terdiri dari siswa putra dan siswa putri. Pada sekolah swasta tertentu dan jenis sekolah tertentu yang siswanya memiliki sifat homogen, umpama Sekolah Menengah Kesejahteraan Keluarga (SMKK) khusus dihadiri siswa putri, STM dihadiri khusus siswa putra. Akan tetapi pemisahan antara siswa putra dan siswa putri pada akhir-akhir ini telah menurun.
Homogenitas kelas jika dilihat dari segi umur telah dikembangkan sejak abad ke-19. Sekarang ini syarat umur untuk suatu kelas telah dilaksanakan secara ketat. Komposisi umur ini sangat penting sebab (1) dapat digunakan pedoman untuk penenimaan siswa baru, (2) siswa dengan sifat dasar sosial yang sama akan memudahkan guru dalam memberikan pelayanan para siswa dalam rangka memilih strategi belajar mengajar yang tepat.
Seperti telah diketahui di muka bahwa dalam satu kelas seorang guru akan berhadapan dengan 25 siswa keatas. Dilihat dari umur guru dan siswa akan berbeda. Perbedaan dari segi umur ini akan mempunyai dampak terhadap keputusan kelas. Segala sesuatu akan cenderung diputuskan oleh guru saja. Hal ini akan menyebabkan kesatuan sosial menjadi pecah. Kondisi kelas yang demikian ini akan menjadikan kelas bukan merupakan suatu komunalitas (Sarason, 1982, p, 182).
Di kota kelas yang heterogen, jika dilihat dari suku, ras dan agama cukup banyak dalam satu kelas ada yang berasal dari Jawa, Sunda, suku Madura dan sebagainya, ada yang beragama Hindu, Budha, Kristen Protestan, Katolik dan Islam. Akan tetapi kebanyakan sekolah siswa-siswa yang beragama Islam merupakan mayonitas. Pada sekolah-sekolah tertentu dan daerah tertentu memang ada kelas yang mayonitas sekolah bukan agama Islam. Akan tetapi untuk daerah tertentu dapat terjadi kelas itu dilihat dari segi agama adalah homogen.
Kelas dilihat dari segi sosial ekonomi lebih cenderung heterogen. Setiap kelas akan dihadiri oleh siswa siswa yang berasal dari kondisi sosial ekonomi orang tua yang berbeda-beda. Ada siswa yang berasal dari kelas sosial yang tinggi, menengah dan rendah untuk kategori daerah itu. Ada siswa yang berasal dari keluarga kaya dan miskin.
Dilihat dari kemampuan siswa suatu kelas cenderung heterogen. Sebab setiap kelas akan mengikuti gejala normal yaitu terdiri dari anak yang pandai, sedang dan kurang pandai. Efek dan kondisi kelas yang demikian ini dilihat dari segi kemampuan terhadap kemampuan kognitif dan afektif masih banyak menjadi pertentangan dari para ahli. Pengelompokkan berdasarkan kemampuan akan kurang tepat jika dilihat secara paedagogis.
Golderg dan kawan-kawan (1966) telah mengadakan penelitian
terhadap efek homogenitas terhadap kemarnpuan akademik anak. Hasil penelitian
itu sebagai berikut:
1.
Kehadiran anak-anak yang berbakat dalam satu kelas mempengaruhi
siswa-siswa cakap tetapi tidak berbakat, tetapi untuk siswa-siswa yang lain
tidak berpengaruh.
2.
Kehadiran anak lambat belajar dalam kelas tidak berpengaruh secara
konsisten, artinya dapat berpengaruh dapat pula tidak.
3.
Siswa-siswa yang berbakat akan bagus penampilannya bila anak-anak
itu digabungkan dalam kelas yang sama-sama berbakat. Siswa-siswa lain cenderung
untuk berusaha semaksimal mungkin sehingga dapat mengejar kekurangannya,
setidak-tidaknya mengurangi jarak kemampuannya.
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengelompokan
berdasarkan kemampuan tidak memiliki pengaruh kuat terhadap penampilan akademik
para siswa. Kehadiran anak-anak yang sangat berbakat dalam kelas mempunyal
pengaruh yang positif pada teman di kelasnya, biarpun anak yang berbakat itu
paling baik penampilannya bila disatukan dengan anak yang sama bakatnya.
Kehadirannya anak yang kurang bcrbakat tidak berpengãruh negarif pada kelasnya.
Menurut Esposito, (1973), McYenley and Mc Genley (1970) kelas yang homogen lebih efektif dan kelas yang heterogen baik dilihat dari segi kemampuan kognitif maupun kemampuan afektif. Anak yang berada dalam kelompok yang berkemampuan tinggi akan memandang rendah pada anak yang berada dalam kelompok yang berkemampuan rendah. Anak yang berkemampuan tinggi yang berada dalam kelompok yang heterogen akan memandang rendah bagi anggota yang berkemampuan rendah. Anak-anak yang ditempatkan pada kelompok homogen yang berkemampuan rendah akan cenderung lebih rendah dan anak yang ditempatkan dalam kelompok yang heterogen. Dampak negatif pada kelompok rendah adalah pada harga diri anak.
TEKNOLOGI KELAS
Tiap kelas pada umumnya benisi sejumlah meja dan kursi untuk siswa, satu almari dan sederet alat peraga yang terpampang di sudut kelas dan dinding kelas. Pada kelas-kelas di SD kondisi ini lebih syarat muatan dibanding dengan SLTP, dan SLTP lebih syarat muatan dibanding dengan SLTA. Pada pendidikan tinggi kondisi kelas boleh dibilang jauh dari muatan pada sekolah dasar. Sehingga anak-anak SD lebih tertutup dibanding dengan jenjang pendidikan yang lain, sebab segala sesuatu telah disediakan di kelas.
Penempatan duduk anak pada tiap kelas mencerminkan sikap guru terhadap siswa Penempatan tempat duduk banyak berkaitan dengan kemampuan anak, jenis kelainan anak. Anak yang pendek, dan kurang pendengarannya diletakkan di muka, anak yang suka usil dan mengganggu temannya ditempatkan dekat guru, anak putri ditempatkan di muka, anak yang berkelainan pendengaran ditempatkan di tengah. Demikian pula anak yang pandai ditempatkan ditengah-tengah yang kurang pandai. Penempatan ini di samping mempertimbangkan aspek moral, juga aspek strategi belajar mengajar, aspek kemampuan, aspek fisik dan aspek sosial. Aspek moral menyangkut pengontrolan guru terhadap tingkah laku siswa, aspek strategi belajar berkaitan dengan memilih cara mengajar yang memungkinkan siswa banyak terlibat dalam proses belajar mengajar, Aspek kemampuan kognitif berkaitan dengan mengefektifkan kemampuan anak untuk dapat membantu anak dalam proses belajar mengajar, Aspek fisik berkaitan dengan kemudahan interaksi siswa dengan siswa, dan guru dengan siswa. Aspek sosial menyangkut pola kerja sama dalam kelas.
Dilihat dari para ahli sosiologi maka perhatian para sosiolog banyak dicurahkan pada inovasi lingkungan responsif dan sekolah terbuka. (Sanapiah, TT, 210-215).
More dan Anderson (1969) telah mengadakan peneltian terhadap lingkungan yang responsif ini terhadap keberhasilan belajar. Di Indonesia juga telah diteliti oleh Conny Semiawan (1978) dengan istilah Lingkungan Belajar yang Mengundang (LBM) untuk anak retardasi mental. Lingkungan yang responsif merupakan perpaduan antara pengaturan ruangan dan perlengkapannya serta media belajar yang ada dengan tujuan agar dapat menarik, memberi kebebasan, bertindak, dan memisahkan siswa dari campur tangan guru, memberi kesempatan untuk dapat mengejar kecepatan pada diri sendiri dan memberi umpan balik secara langsung pada hasil kerjanya. Dari hasil penelitian More dengan menggunakan komputer adalah pada meningkatnya interaksi sosial. Anak yang belajar dengan mempergunakan komputer hasilnya akan meningkat jika Selama bekerja anak didampingi oleh guru. Oleh karena itu yang nampak penting di sini adalah tindakan untuk mendapatkan respon dan guru, bukan semata-mata penggunakan teknologi. Dan penelitian Conny Semiawan disimpulkan bahwa Lingkungan Belajar yang Mengundang dapat meningkatkan perkembangan mental anak retardisi mental.
Pengaturan serupa juga diterapkan pada kelas tebuka. Pengaturan ini memadukan antara elemen teknologi dan struktur sosial. Model kelas terbuka dibuat sedemikian rupa sehingga memungkinkan fleksibilitas dalam menggunakan ruangan fisik.
Silbermen (1972), Bart (1972), Epstein dan Parland (1976) dalam pendidikan pada kelas terbuka guru hanya menjalankan peranan komplementer dan tidak begitu banyak mengontrol perlengkapan, materi, tugas, kecepatan dan evaluasi. Oleh karena itu siswa mempunyai kesempatan yang besar dalam mengadakan interaksi, siswa mempunyai hak otonomi pengaturan waktu belajar di sekolah, kegiatan belajar menjadi beraneka ragam.
Dari berbagai penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) kelas terbuka merupakan salah satu bentuk inovasi pendidikan dalarm teknologi pengajaran yang tidak mengubah pola interaks dalam kelas. (Wilberg dan Thomas, 1972) (2) Dilihat dan jaringan sosial maka siswa-siswa pada kelas terbuka lebih akrab dengan semua orang bila dibandingkan dengan sekolah tradisional (Brody dan Zimmeerman, 1975). (3) Bila dibanding antara pendidikan tradisional dan kelas terbuka maka hasil tes kreativitas, harga diri, pengendalian diri dan perkembangan kognitif tidak berbeda, biarpun ada perbedaan untuk belajar terus-menerus pada sekolah terbuka lebih tinggi dari pada sekolah tradisional (Wriht, 1975, P. 461). (4) Situasi kehidupan kelas terbuka lebih menyerupai situasi kehidupan pada masyarakat bila dibandingkan dengan kelas tradisional.
KOMUNIKASI DALAM KELAS
Sepanjang hari-hari sekolah terjadi percakapan antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa. Dalam interaksi itu terjadi komunikasi. Dalam proses belajar mengajar terjadi penyampaian informasi.
Pola komunikasi dalam interaksi belajar mengajar ada bermacam WF Connell (1972, p. 244) membagi pola komunikasi dalam kelas itu ada 4 macam.
1.
Pola komunikasi satu arah: dalam pola komunikasi satu arah ini
terjadi komunikasi, di mana guru menyampaikan informasi kepada sekelompok
siswa. Siswa mendengarkan dan mencatat informasi dari guru. Antara guru dan
siswa ada garis pemisah yang tegas.
2.
Pola komunikasi dua arah: dalam pola komunikasi dua arah terjadi
interaksi. antara guru dengan siswa satu per satu. Antara guru dan siswa ada
garis pemisah yang longgar. Siswa tidak hanya mendengar dan mencatat tetapi
siswa sudah dapat bertanya dan menjawab pertanyaan guru.
3.
Pola komunikasi tiga arah: dalam pola komunikasi tiga arah ini
terjadi interaksi antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa.
Antara guru dan siswa ada garis pemisah yang longgar. Siswa tidak sekedar
mendengar, mencatat bertanya dan menjawab pertanyaan guru, tetapi siswa dapat
bertanya dan menjawab pertanyaan guru, tetapi siswa dapat bertanya dan menjawab
pertanyaan siswa yang lain.
4.
Pola komunikasi ganda arah (multi dimensi): dalam pola komunikasi
ganda arah ini terjadi interaksi antara siswa dengan siswa. Komunikasi dengan
guru hanya bila perlu saja. Antara guru dan siswa tidak ada garis pemisah.
Jika keempat pola itu kita perhatikan maka pola kelima yang paling
memberi kesempatan kepada siswa untuk memutuskan sendiri apa yang mau
dipelajari secara bersama-sama dalam kelompoknya. Siswa dipandang sebagai
individu yang dapat merencanakan apa yang akan dipelajari bersama. Guru sebagai
sumber informasi hanya sebagai fasilitator dan dinamisator pada kehidupan
kelompok.
SUASANA SOSIAL DALAM KELAS
Dalam kehidupan kelas terjadi komunikasi antara guru dan siswa dan antara siswa dan siswa. Interaksi dalam kelas tidak selalu berjalan dengan tenang, damai, tenteram, hangat, penuh keakraban dan sebagainya, akan tetapi sering juga terjadi situasi persaingan yang tidak sehat, pertentangan pendapat yang menjurus percekcokkan dan bahkan terjadi perkelahian.
Menurut para ahli sosiologi kondisi kehidupan semacam itu disebut iklim sosial atau suasana sosial (social climate) (Sanapiah Faizal, TT, p. 226). Richard Schmuh dan Patricia A Schmuch (1983) mengatakan bahwa istilah iklim kelas dapat berupa penerapan hubungan perasaan dalam pribadi yang diasosiasikan ke dalam pola-pola interaksi, seperti reaksi emosional terhadap kelompok, rasa puas terhadap kelompok dan rasa frustasi dan sebagainya.
Jadi iklim kelas merupakan suasana kelas di mana terjadi interaksi antar-slswa dan interaksi antara guru dan siswa secara pribadi. Interaksi ini dapat menimbulkan suasana kelas yang posistif dapat pula menimbulkan suasana kelas yang negatif.
Suasana kelas yang positif akan terjadi bila, terjadi interaksi
dalam kelas antara guru dan siswa, antara siswa dan siswa, di mana dalam
interaksi itu terjadi komunikasi dalam bentuk kerjasania, tolong-menolong,
tenggang rasa antara anak yang pandai dan yang kurang pandai, antara yang kaya
dan yang kurang mampu, norma-norma pergaulan hidup dan tata tertib kelas maupun
sekolah dipatuhi dengan disiplin yang luwes, terjadi komunikasi yang terbuka.
Hal ini berarti bahwa tiap peserta didik dan guru harus dijauhkan oleh rasa
curiga-mencurigai, berani mengakui kesalahan, jika memang berbuat salah, siswa
berani menyalahkan guru jika guru menjelaskan sesuatu yang salah. Pendek kata
baik peserta didik maupun pendidik siap sedia dikritik dan mengkritik yang
bersifat membangun. Dengan demikian akan terjadi suasana kelas yang selalu
menyenangkan, hidup, di mana tiap orang berusaha menghargai dan menghargai
martabat orang lain sebagaimana adanya bukan sebagaimana nampaknya.
Suasana kelas dipengaruhi oleh gaya (style) dan guru dalam interaksi di kelas. Jeanne H. Ballatinne (1983) membedakan gaya interaksi dalam kelas itu menjadi tiga gaya yaitu diktator, demokrasi dan liberal. Gaya interaksi diktator akan menimbuilcan siswa menjadi takut dan segala sesuatu berjalan dengan komando atau perintah dari guru. Suasana kelas menjadi kaku, dan mati. Suasana kelas tenang karena siswa dicekam rasa takut. Tujuan yang akan dicapai hanya diketahui oleh guru saja. Jika guru tidak ada di kelas suasana menjadi gaduh. Gaya guru yang liberal menimbulkan suasana kelas kacau, guru kurang wibawa, anak akan bertindak liar, dapat terjadi suasana yang sukar dikendalikan. Tujuan yang akan dicapai kurang jelas. Gaya guru yang demokratis dalam interaksi akan menimbulkan suasana yang diliputi oleh hubungan siswa dengan siswa secara tolong-menolong, tenggang rasa, guru dan siswa bekerja sesuai dengan peran masing-masing dalam interaksi belajar mengajar. Suasana kelas menjadi hangat dan menyenangkan, sehingga baik guru maupun siswa tahan tinggal di sekolah. Inisiatif tidak selalu timbul dan guru, tetapi kadang-kadang juga timbul dari siswa. Tujuan yang akan dicapai sama-sama diketahui siswa dan guru.
Dari hasil-hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Anderson yang dikutip WF Conneil (1972, p. 1944) menunjukkan bahwa suasana kelas yang hangat, akrab dan dominasi guru terhadap siswa longgar dapat menyebabkan timbulnya banyak partisipasi dalam kelas, memberikan kesempatan yang banyak bagi siswa untuk menyatakan pendapatnya, menimbulkan banyak pola-pola kerja sama antar siswa dan terjadi diskusi kelas yang sehat dan akhimya dapat meningkatkan prestasi belajar para siswa.
BERDASARKAN PENDAPATAN
Pendapatan Nasional
II. Pendapatan Nasional
1. Pengertian Pendapatan Nasional
Dalam ilmu ekonomi pendapatan nasional
merupakan konsep yang menarik untuk
dipelajari. Setiap kegiatan ekonomi dalam suatu negara pasti berkaitan pendapatan
nasional. Tingkat perkembangan ekonomi suatu negara juga dapat dilihat dari pendapatan nasionalnya. Usaha-usaha pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh setiap Negara pasti diarahkan untuk meningkatkan untuk menstabilkan pendapatan nasional.
Pendapatan nasional adalah jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh suatu perekonomian dalam periode tertentu yang dihitung berdasarkan nilai pasar. Setiap negara memiliki suatu sistem perhitungan pendapatan nasional. Sistem tersebut
merupakan suatu cara mengumpulkan informasi perhitungan terhadap hal-hal sebagai
berikut.
a. Nilai berbagai ibarang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara
b. Nilai berbagai jenis pengeluaran atas produk nasional
c. Jumlah pendapatan yang diterima oleh berbagai faktor produksi yang digunakan untuk menciptakan produk nasional tersebut.
2.Konsep-Konsep Pendapatan Nasional
a. Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross
Domestic Product (GDP)
Produk Domestik Bruto adalah jumlah nilai seluruh barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara dalam periode tertentu atau satu tahun termasuk barang dan jasa yang diproduksi oleh perusahaan milik penduduk Negara tersebut dan oleh penduduk
negara lain yang tinggal di negara bersangkutan.
b. Produk Nasional Bruto (PNB) atau Gross National Product (GNP)
Produk Nasional Bruto adalah total nilai barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu masyarakat suatu negara selama periode tetentu baik yang tinggal di dalam negeri maupun diluar negeri.
c. Produk Nasional Netto (PNN) atau Net National Product (NNP)
Produk Nasional Neto adalah produk nasional bruto dikurangi penyusutan barangbarang pengganti modal dalam proses produksi.
d. Pendapatan Nasional Neto (Net National Income) = NNI
Pendapatan Nasional Neto adalah produk nasional neto dikurangi dengan pajak tidak langsung dan ditambah dengan subsidi
e. Pendapatan Perorangan (Personal Income = PI)
Pendapatan Perongan adalah seluruh jumlah seluruh penerimaan yang benar-benar sampai di tangan masyarakat ditulis dalam rumus: PI = NNI=transfer payment – (laba ditahan + iuran asudanri + iuran jaminan social + pajak perseorangan)
f. Pendapatan Disposable/ setelah pajak (Disposible Income)
Pendapatan Disposible adalah pendapatan perseorangan setelah dikurangi dengan pajak penghasilan. Rumusnya: Disposible Income = Personal Income – Pajak Penghasilan.
g. PDRB (Produk Domestik Regional Bruto)
Produk Domestik Regional Bruto adalah jumlah keseluruhan dari nilai tambah bruto yang berhasil diciptakan oleh seluruh kegiatan ekonomi yang berada pada suatu wilayah selama periode tertentu.
II. Metode Perhitungan Pendapatan Naisonal
Ada beberapa pendekatan untu menghitung pendapatan nasional antara lain sebagai berikut:
1. Pendekatan Pendapatan
Pendekatan Pendapatan (income a product) adalah suatu pendekatan dimana pendapatan nasional diperoleh dengan cara menjumlahkan pendapatan dari berbagai faktor produksi yang memberi sumbangan terhadap proses produksi.
a. Kompensasi untuk pekerja
1. Pengertian Pendapatan Nasional
Dalam ilmu ekonomi pendapatan nasional
merupakan konsep yang menarik untukdipelajari. Setiap kegiatan ekonomi dalam suatu negara pasti berkaitan pendapatan
nasional. Tingkat perkembangan ekonomi suatu negara juga dapat dilihat dari pendapatan nasionalnya. Usaha-usaha pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh setiap Negara pasti diarahkan untuk meningkatkan untuk menstabilkan pendapatan nasional.
Pendapatan nasional adalah jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh suatu perekonomian dalam periode tertentu yang dihitung berdasarkan nilai pasar. Setiap negara memiliki suatu sistem perhitungan pendapatan nasional. Sistem tersebut
merupakan suatu cara mengumpulkan informasi perhitungan terhadap hal-hal sebagai
berikut.
a. Nilai berbagai ibarang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara
b. Nilai berbagai jenis pengeluaran atas produk nasional
c. Jumlah pendapatan yang diterima oleh berbagai faktor produksi yang digunakan untuk menciptakan produk nasional tersebut.
2.Konsep-Konsep Pendapatan Nasional
a. Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross
Domestic Product (GDP)Produk Domestik Bruto adalah jumlah nilai seluruh barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara dalam periode tertentu atau satu tahun termasuk barang dan jasa yang diproduksi oleh perusahaan milik penduduk Negara tersebut dan oleh penduduk
negara lain yang tinggal di negara bersangkutan.
b. Produk Nasional Bruto (PNB) atau Gross National Product (GNP)
Produk Nasional Bruto adalah total nilai barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu masyarakat suatu negara selama periode tetentu baik yang tinggal di dalam negeri maupun diluar negeri.
c. Produk Nasional Netto (PNN) atau Net National Product (NNP)
Produk Nasional Neto adalah produk nasional bruto dikurangi penyusutan barangbarang pengganti modal dalam proses produksi.
d. Pendapatan Nasional Neto (Net National Income) = NNI
Pendapatan Nasional Neto adalah produk nasional neto dikurangi dengan pajak tidak langsung dan ditambah dengan subsidi
e. Pendapatan Perorangan (Personal Income = PI)
Pendapatan Perongan adalah seluruh jumlah seluruh penerimaan yang benar-benar sampai di tangan masyarakat ditulis dalam rumus: PI = NNI=transfer payment – (laba ditahan + iuran asudanri + iuran jaminan social + pajak perseorangan)
f. Pendapatan Disposable/ setelah pajak (Disposible Income)
Pendapatan Disposible adalah pendapatan perseorangan setelah dikurangi dengan pajak penghasilan. Rumusnya: Disposible Income = Personal Income – Pajak Penghasilan.
g. PDRB (Produk Domestik Regional Bruto)
Produk Domestik Regional Bruto adalah jumlah keseluruhan dari nilai tambah bruto yang berhasil diciptakan oleh seluruh kegiatan ekonomi yang berada pada suatu wilayah selama periode tertentu.
II. Metode Perhitungan Pendapatan Naisonal
Ada beberapa pendekatan untu menghitung pendapatan nasional antara lain sebagai berikut:
1. Pendekatan Pendapatan
Pendekatan Pendapatan (income a product) adalah suatu pendekatan dimana pendapatan nasional diperoleh dengan cara menjumlahkan pendapatan dari berbagai faktor produksi yang memberi sumbangan terhadap proses produksi.
a. Kompensasi untuk pekerja
Pekerja mendapat upah
dan gaji serta penerimaan lain, seperti pemberian tunjangan pensiun, jaminan
sosial, dan pendapatan lainnya.
b. Keuntungan Perusahaan
Merupakan pendapatan yang dihasilkan suatu perusahaan karena mengelola sumber daya yang dimilikinya
c. Pendapatan Usaha Perorangan
Merupakan pendapatan yang diterima dari enggunaan tenaga kerja dan hasil usaha orangan, seperti petani
d. Pendapatan Sewa
Merupakan balas jasa yang diberikan pada pemilik sumber daya yang digunakan untuk kegiatan ekonomi
b. Keuntungan Perusahaan
Merupakan pendapatan yang dihasilkan suatu perusahaan karena mengelola sumber daya yang dimilikinya
c. Pendapatan Usaha Perorangan
Merupakan pendapatan yang diterima dari enggunaan tenaga kerja dan hasil usaha orangan, seperti petani
d. Pendapatan Sewa
Merupakan balas jasa yang diberikan pada pemilik sumber daya yang digunakan untuk kegiatan ekonomi
Tujuan penghitungan pendapatan nasional untuk mengukur
tingkat kemakmuran suatu negara dan mendapatkan data-data terperinci mengenai
seluruh barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara dalam waktu satu tahun.
Manfaat yang diperoleh dari penghitungan pendapatan nasional adalah sebagai berikut:
Mengetahui dan menelaah kondisi atau struktur perekonomian
Dari perhitungan pendapatan nasional, kita dapat menggolongkan suatu negara sebagai negara industri, pertanian atau jasa.
Mengetahui dan menelaah kondisi atau struktur perekonomian
Dari perhitungan pendapatan nasional, kita dapat menggolongkan suatu negara sebagai negara industri, pertanian atau jasa.
BERDASARKAN KESEHATAN
Definisi kesehatan menurut WHO adalah suatu keadaan
sehat jasmani, rohani, dan sosial yang merupakan aspek positif dan tidak hanya
bebas dari penyakit serta kecacatan yang merupakan aspek negatif.
Pender,
Murdaugh, dan Parsons ( 2006 ) mendefinisikan kesehatan sebagai perwujudan
potensi manusia intrinstik dan ekstrinsik melalui tingkah laku yang diarahkan oleh
tujuan hidup, perawatan diri yang kompeten, dan hubungan dengan orang lain yang
memuaskan, dengan penyesuaian yang dilakukan untuk mempertahankan integritas
struktural dan harmoni dengan lingkungan.
Seseorang
dikatakan dalam rentang sehat jika kebutuhan holistik ( fisiologis, spiritual,
psikologis, dan sosial ) dan kebutuhan dasarnya ( fisiologis, rasa aman, kasih
sayang, harga diri, dan aktualisasi diri ) telah terpenuhi. Jika salah satunya
tidak terpenuhi maka belum dapat seseorang itu dikatakan dalam rentang sehat.
A.
KESEHATAN
MASYARAKAT
Pengertian Kesehatan Masyarakat Menurut Winslow
(1920) bahwa Kesehatan Masyarakat (Public Health) adalah Ilmu dan Seni :
mencegah penyakit, memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan, melalui
“Usaha-usaha Pengorganisasian masyarakat“
untuk :
1. Perbaikan
sanitasi lingkungan
2. Pemberantasan
penyakit-penyakit menular
3. Pendidikan
untuk kebersihan perorangan
4. Pengorganisasian
pelayanan-pelayanan medis dan perawatan untuk diagnosis dini dan pengobatan.
5. Pengembangan
rekayasa sosial untuk menjamin setiap orang terpenuhi kebutuhan hidup yang
layak dalam memelihara kesehatannya. (Notoatmodjo, 2003)
Menurut Ikatan Dokter Amerika (1948) Kesehatan
Masyarakat adalah ilmu dan seni memelihara, melindungi dan meningkatkan
kesehatan masyarakat melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat. Dari
batasan ini dapat disimpulkan bahwa kesehatan masyarakat itu meluas dari hanya
berurusan sanitasi, teknik sanitasi, ilmu kedokteran kuratif, ilmu kedokteran
pencegahan sampai dengan ilmu sosial, dan itulah cakupan ilmu kesehatan
masyarakat.
Ada
beberapa persoalan kesehatan di masyarakat, antara lain:
1. Keadaan
demografi, jumlah penduduk yang banyak dan tidak merata. Ini merupakan suatu tantangan dalam pembangunan
kesehatan.
2. Pendidikan
yang tidak memadai.
3. Tingkat
ekonomi, tingkatan pendapatan yang rendah menyebabkan sebagian besar warga
tidak dapat menikmati pelayanan kesehatan.
4. Dampak
implikasi dari adanya kegiatan pembangunan, di satu sisi tidak saja
mendatangkan manfaat tetapi juga menimbulkan efek samping, juga perubahan
masyarakat yang terlalu cepat tanpa diiringi dengan perubahan masyarakat yang
terlalu cepat tanpa diiringi dengan perubahan sikap, biasanya akan menimbulkan
konflik. Misalnya : over gizi, penggunaan obat-obat terlarang
5. Persoalan
fasilitas kesehatan, bagi kita fasilitas
kesehatan masih sangat jauh dari kebutuhan, jumlah puskesmas tidak memadai.
Misalnya satu puskesmas harus melayani 30.000 orang penduduk.
a. Walaupun
setiap saat pemerintah juga melakukan pembangunan berbagai fasilitas namun
kenyataannya fasilitas yang ada tetap belum memadai. Ini terbukti dari jumlah
orang yang sakit pada tahun 1971, yang mendapat pengobatan hanya 55%,
tahun 1980 meningkat menjadi 74%. Ini di
buat oleh pemerintah, pelayanan pemerintah untuk melayani orang sakit pada
tahun 1980 itu berjumlah 44%.
- Orang
yang menangani penyakitnya sendiri juga terjadi peningkatan, berarti di
sisni terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan.
Sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pelayanan kesehatan.
Tetapi ini juga mempunyai resiko
terhadap penyalahgunaan obat-obatan dan ketidak tepatan dalam dosis
pengobatan.
6. Masalah
tenaga kerja di bidang kesehatan, kita sampai saat ini masih kekurangan tenaga
kerja di bidang kesehatan, kita baru mempunyai tenaga kesehatan kurang dari
150.000 TK untuk melayani 170 juta jiwa. 4000 tenaga medis termasuk tenaga
dokter 1500 orang, dokter di 12 universitas.
7. Persoalan
biaya kesehatan, pemerintah hanya mampu mengeluarkan biaya kesehatan masyarakat
Rp 2500-2600 perkapita/tahun. Sedangkan kalau di hitung biaya kesehatan yang
harus di keluarkan oleh masyarakat indonesia Rp 10.000 perkapita/tahun, berarti
lebih dari 50% biaya kesehatan masyarakat harus di tanggulangi oleh masyarakat
harus di tanggulangi oleh masyarakat. Dari APBD untuk bidang kesehatan
Indonesia baru berkisar 2,2%. Kalau di hitung secara keseluruhan anggaran belanja negara kita masih jauh jika
dibandingkan dengan negara-negara lain. Seperti : Burma 6,7%, Srilanka 7,5%,
dan Bangladesh 4%. Akibat dari anggaran yang sangat terbatas ini tenaga medis
harus menuntut banyak dari masyarakat.
8. Masalah
sarana obat-obatan , di satu sisi kita memang sudah mampu memproduksi
obat-obatan lebih dari 90%. 90% dari obat-obatan yang beredar sudah di produksi
di dalama negeri. Tetapi di sisi lain lebih dari 95% komponen obat harus di
impor dari luar. Keadaan ini tentu membuat harga obat dalam negeri menjadi
tinggi dan di dunia juga lebih tinggi. Sebagian besar dari pengelolaan obat
dilakukan oleh pihak swasta, hampir mencapai 90% produksi dan distribusinya
dilakukan oleh swasta, pemerintah hanya mampu melayani kebutuhan obat hanya
mencapai 10%.
9. Masalah
gizi, di samping persoalan kekurangan gizi yang di sebabkan oleh faktor
ekonomi, juga masalah gizi yang di sebabkan faktor pengetahuan dan pendidikan
yang tidak memadai ke-2 pesoalan tadi (kekurangan gizi dan salah gizi) juga
bisa di sebabkan oleh kebiasaan dan
tradisi yang ad dalam masyarakat dengan demikian masalah kesehatan dalam
masyarakat sangat di pengaruhi oleh berbagai komponen, di samping komponen
bawaan, juga di pengaruhi oleh keadaan kesehatan, prilaku-prilaku pelayanan
kesehatan, juga di pengaruhi oleh lingkungan fisik (pencemaran) dan di
pengaruhi juga oleh sosial budaya masyarakat yang bersangkutan.
B. KELAS SOSIAL
Kelas sosial atau golongan sosial merujuk
kepada perbedaan hierarkis (atau stratifikasi) antara insan atau kelompok
manusia dalam masyarakat atau budaya. Biasanya kebanyakan masyarakat memiliki
golongan sosial, namun tidak semua masyarakat memiliki jenis-jenis kategori
golongan sosial yang sama. Berdasarkan karakteristik stratifikasi sosial, dapat
kita temukan beberapa pembagian kelas atau golongan dalam masyarakat.
C. SOSIAL BUDAYA KESEHATAN
Secara sosiologis, individu
merupakan representasi dikehidupan lingkungan sosialnya. Segala yang
terjadi di lingkungan sosialnya di amati, di pelajari, dan kemungkinan di intregasikan
dan di internalisasi sebagai bagian dari kehidupannya sendiri. Setiap individu
memiliki identitas sesuai lingkungan sosialnya. Apa yang di lakukan,
gagasannya, perasaannya merupakan hasil pembentukan lingkungan sosialnya.
Lingkungan
sosial secara nyata juga mempengaruhi perilaku sehat dan sakit. Peran sehat dan
sakit juga berkaitan dengan nilai sosialnya.individu akan berperan seht atau
sakit. Diantara factor lingkungan sosial yang sangat besar pengaruhnya terhadap
kesehatan mental adalah stratifikasi sosial, pekerjaan, keluarga, budaya,
perubahan sosial, stressor psikososial.
1. STRATIFIKASI SOSIAL
Masyarakat kita terbagi menjadi keelompok tertentu diantaranya jenis
kelamin, usia, tingkat pendidikan, status sosial. Di tinjau dari status sosial
banyak pendekatan yang di gunakan untuk melakukan klasifikasi..secara umum
klasifikasi status sosial itu dikelompokan atas stratanya yang dikelompokan
atas; strata tinggi, menengah, rendah.
a)
Kelas Sosial Ekonomi dan Revalensi Gangguan Mental
Setiap kelas sosial itu memiliki cara hidup dan interaksi sosial tersendiri
termasuk dalam soal mempersepsikan dan menangani segala persoalan kehidupanya.
Gangguan mental merupakan salah sau malah di masyarakat yang memperoleh
perhatian dari para ahli untuk dikaji dari aspek strata sosial masyarakatnya.
Berdasarkan penelitian dikrtahui bahwa stratifikasi sosial yang ada di
masyarakat ternyata berhubungan dengan jenis ganngguan mentalnya. Terdapat
distribusi gangguan mental secara berbeda antara kelompok masyarakat yang berada
pada strata sosialyang tinggidengan strata sosial yang rendah. Dalam berbagai
study dipahami bahwa keelompok kelas sosial rendaah lebih besar prevelansi
gangguan psikiatrinya disbanding dengan kelomopk sosial tinggi.
b) Status
Sosial Ekonomi dan Pola Gangguan
Status sosial ekonomi juga berkaitan dengan pola gangguan psikiatrik.
Berdasarkan penelitian Holingshead diketahui bahwa masyarakat kelas
sosial rendah diketahui tingginya prevelansi psikotik, sedangkan prevelansi
neurotic lebih banyak pada kelompok kelas. Kesimpulan itu tidak berlakku untuk
psikotik jenis drepesi karena prevelasinya lebih banyak terjadi pada kelompok
masyarakat kelas sosial yang tinggi.
Penelitian yang lebih spesifik, yaitu insidendi skizofenia dalam kaitanya
dengan status sosial dilkukn oleh Dunham, memberikan kesimpulannya yang
mendukung kesimpulan Holingshead itu. Jika dikaitkan denganjenis gangguan yang
di alami, secara jelas dikemukakan oleh Dunham ini adalah:
a)
Gangguan neurosisdan depresif lebih banyak dialami
oleh kelompok sosial ekonomi tinggi dan sedikit dari kelompok sosial ekonomi
rendah.
b)
Sakit mental ( psikosis ) sebaliknya, prevalensinya
lebih banyak dialami oleh kelompok soial ekonomi rendah dan tidak banyak
dialami oleh kelompok sosial ekonomi tinggi.
c)
Seleksi sosial lawan sebab sosial
Ada dua hipotesa yang menjelaskan fenomena ini sebagaimana
dikemukakan Dohrenwend, yaitu hipotesis seleksi dan hipotesis sebab
sosial.
a. Hipotesis seleksi sosial
Hipotesis seleksi sosial menjelaskan bahwa seseoran yang mengalami gangguan
mental membuat diaa menjadi miskin. Yang terjadi adalah peluncuran kebawah dari
stsatus sosial tinggi ke status sosial yang rendah. Yang meyebabkan
seseorang mengalami gangguan mental menurut teori teori seleksi sosial ini karena
factor psikologis, genetik, konstiusi.
Pertama orang yang
mengalami gangguan mental akan terjadi penurunan kemampuan kerja dan sosial,
sehigga tida mampu berkompeteensi dalam mempertahankan hidpnya. Merekayang
sembuh keskitannya ika bekerja akan ditempatkan pada posisi yang sesuai yaitu
status pekerjaan yang dibawahnya sehingga penghasilan menurun dan mmbuat dia
berstatus sosial rendah. Kedua orang
yang mengalami gangguan metal secara aktif akan mecari lingkungan sosial yang
sesuai untuk menerima kondisinya.
b. Hipotesis sebab sosial
Hipotesis sebab sosial menjelaskan bahwa orang yang miskin memang
memiliki kecenderungan untuk sakit mental. Masyarakat dari kelas sosial ekonomi
rendah, menurut hipotesis ini, lebih rentan jatuh sakit karena dua kemungkinan
:
1. Sifat kecenderungan personal ang dimilikinya sepeti; perasaan tidak
berdaya dan kurang pengendaliantrhadap dirinya sendiri.
2. Kondisi sosialnya seperti kekurangan memperoleh doronggan dari orang
lain.
Dunham adalah pihak yang tidak menyepakati factor ekonomi sebagai penyebab
gangguan psikiatris khususnya skizofrenia. Berdasarkan study nya dia
mengemukakan kemiskinan merupakan tdak selalu menimbulkan sakit mental. Yang
terjadi sebaliknya bahwa orang yangmenderita skizofrenia memang menunjukkan
kelas sosial ekonomi yang rendah, bukan orang yang berstatus sosial ekonomi
rendah menjaadi skizofrenia. Namun demikian Dunham menetapkan secara pasti
apakah hipotesis yang pertama lebih kuat dibandingkan dengan hipotesis kedua
yang menyangkut hubungan status sosial ekonomi dengan gejala gangguan
mental tidak dapat dipastikan.
2. INTERAKSI SOSIAL
Interaksi sosial baanyak dikaji dalam kaitanya dengan gangguan mental. Ada
dua pandangan interksi sosial ini. Pertama,
teori psikodinamik mengemukakan bahwa orang yang mengalami gangguan emosional
dapat berakibatkan pada pengurangan interaksi sosial,hal ini dapat diketahui
dari perlaku regresi sebagai akibat dari adanya sakit mental. Kedua, bahwa rendahnya interaksi
sossiaal itulah yang menimbulkan adanya gangguan mental.
Faris dan Dunham berpandangan bahwa interaksi kualitas sosial sangat
mempengaruhi kesehatan mental. Lingkungan kehidupan, setidaknya soal tempat
tinggal berhubungan dengan problem kesehatan mental ini. Tempat tinggal
dapat memberi peluang untuk meningkatkan hubungan interpersonal sementara pola
tempat tinggal tertentu dapat mengambat dan menimbulkan kesulitan untuk
hubungan interpersonal selain itu mereka juga berpandangan bahwa tempat
tinggal yang tersolasi dari kehidupan hubungan interpersonal diyakini dapat
meningkatkan insidesi psikosis, schizophrenia.
Hal ini secara sosial terisolasi, tempat tinggal yang terisolasi secara
sosial tidak hanya karena jarak yang jauh satu dengan yang lain tetapi menyangkut
apakah tempat tinggal itu sendiri memberi suasana yang mampu menciptakan
hubungan interpersonal atau tidak. Clausen dan Kohn mengemukakan
bahwa ada empat macam tempat tinggal yang dipandang menimbulkan
pengalaman terisolasi secara sosial sebagai berikut:
1.
Hidup di dalam tempat tinggal yang menghasilkan
atau menibulkan isolasi sosial karena tempat tinggal itu terus menerus berubah.
2.
Hidup adalah wilayah kelompok etnis lain
3.
Hidup dalam masyarakat di lingkungan kumuh, keturunan
asing yang kasar,atau dimasyarakat yang kopettif yang berakibat isolasi sosial,
khususnyabagi orang sensitf, suka mengalah ataumalu malu
4.
Dalam lingkungan keas sosil rendah, umumnya kurrang
asertif pada anak. Jika tidak menjalin hubungan degan yang lainnya maa
dia akan terisolasi secara sosial.
3. KELUARGA
Keluarga merupakan lingkungan sosial yang sangat dekat hubungannya dengan
seseorang. Keluarga itu seseorang dibesarkan, bertempat tinggal, bernteraksi
atau dengan katalain dibentuknya nilai nilai, pola pikir, dan kebiasaannya.
Keluarga juga berfungsi sebagai seleksi segenap budaya luar dan medasi hubungan
anak dengan lingkunganya. Keluarga yang lengkap dan funngsional serta mampu
membentuk homeostasis akan dapat meningkatkan kesehatan mental para
anggota keuargnya, dan kemungkinan dapat meningkatkan ketahanan para
anggota keluarganya dari adanya gangguan mental dan ketidakstabilan emosional
para anggotanya.
Dalam pandangan psikodinamik keluarga merupakan ligkungan sosial yang
secara langsung mempengaruhi individu. Keluarga merupakan ligkungan
mikrosistem, yang menentukan kepribadian dan kesehtan mental anak, keluarga
lebih dekat hubungannya dengan anak dibandingkan dengan masyarrakat luas karena
itu dapat digambarkan hubungan ketiga unit itu sebagai anak keluarga dan
masyarakat, artinya masyarakat menentukan keluarga dan keluarga menentukan
individu. Banyak sekali kondisi keluarga yang justru menjadi hazard begi setiap
anggota keluarganya dan tentunya berisiko bagi terganggunya anggotanya. Kondisi
keluuarga yang menjadi hazard antara lain:
1.
Perceraian dan Perpisahan
Dikarenakan berbagai sebab antara anak dan orang tua menjadi faktor yang
sangat berpengaruh terhadap pembentukan perilaku dan kepribadian anak.
Kesimpulannya bahwa perceraian atau perpisahan dapat berakibat buruk pada
perkembangan kepribadian anak.
2.
Keluarga yang Tidak Profesional
Keluarga yang tidak berfungsi menuju pada keadaan keluarga tetap
utuh,terdiri dari kedua orng tua dan anak anaknya. Mereka masihmenetp di satu
rumah , jadi strukturnya tidak mengalami perubahan. Hanya fungsinya yang tidak
dapat berjalan. Faktor fungsi keluarga ini menjadi lebih penting daripada
perceraian dan perpisahan, bagian ini jauh lebih berakibat buruk pada
perkembangan anak.
3.
Perlakuan dan Pengasuhan
Perlakuan orang tua pada anak berkaitan dengan apa yang dilakukan ortu atau
anggota keuarga lain kepadaanak. Apakah dibiarkan diperlakuan secara kasar atau
dimanfaatkan secara salah atau diperlakukan secara penuh toleransi dan
menciptakan iklim yang sehat. Semuanya mempengaruhi perkembangan pada anak dan
juga mungkin berpengaruh pada anggota keluarganya secara keseluruhan. Kondisi
keluarga yang tidak kondusif akan berakibat gangguan mental bagi anak di
antaranya gangguan tingkah laku, kecemasan, mbang dan beberapa gangguan jiwa
lainnya.
D. PERUBAHAN
SOSIAL
Perubahan sosial selalu terjadi di lingkungan kita. Tidak ada suatu
masyarakat yang tidak mengalami prubahan sosial, termasuk di masyarakat yang
terasingpun. Perbahan sosial itu dapat berlangsung dengan sangat cepat dan ada
pula perubahan yang sangat lambat. Dalam masyarakat modern perubahan sosial itu
sangat mencolok, dan terjadi di berbagai bidang kehidupan. Terjadinya
industrialisasi,kemajuan media komunikasi, perubahan sistam ekonomi, system
sosial dan politik yang terus berlansung menimbuan perubahan sosial. Di negara
maju perubahan itu secar nyata dirasakan sejak terjadinya revolusi industru
pada abad pertengahan.
Di negara berkembang seperti Indonesia, perubahan sosial terjadi
sejak orde pembangunan yang di tunjukkan dengan pembangunan industri secara
besar besaran yang diikuti oleh banyaknya urbanisasi dengan segala
konsekuensinya termasuk bergesernya pola keluarga dan pengasuhan, interaksi
sosial , perubahan nilai nilai sosial masyarakatnya. Tentunya, perubahan sosial
ini akan berlangsung dan akan terjadi secara cepat. Dampak positif dari
perubahan sosial bagi masyarakat industrialisasi dapat meningkatkan status
sosial karena mereka dapat memanfaatkan pembangunan industri sebagai lapangan
pekerjan baru dan kemungkinan mereka terdorong untuk meningkatkan pendidikanya
sehingga dapat memperoleh pekerjaan yang diinginkan industri itu.
Selain itu adapula dampak negatifnya yaitu perubahan itu membawa aplikasi
terhadap berbagai aspek kehidpn lain seperti adanya aturan dan nilai baru dan
berdampak bagi perubahan aturn dan nilai dan struktur sosial itu tidak di
kehendaki oleh masyarakatnya. Karena itu perubahan sosial itu dapat
menjadi tantangan dan dapat pla menjadi hambatan baagi masyarakat untuk menyesuaikan
diri. Sehubungan dengan perubahan sosial ini terdapat dua kemungkinan yang
dapat terjadi. Perubahan sosial dapat menimbulkan kepuasan bagi masyarakatnya
karena sesuai dengan yang diharapkan dan dapat meningkatkan keutuhan
masyarakatnya, dan hal ini sekaligus meningkatkan kesehatan mental.
Namun di sisi lain, dapat pula berakibat masyarakatnya mengalami
kegagalan dalam penyesuaian terhadap perubahan itu akibatnya mereka
memanifestasikan kegagalan penyesuaian itu dalam bentuk yang patologis,
misalnya tidak terpenuhinya tuntutan politik, suatu kelompok masyarakat
melakukan tindak pengrusakan dan penjarahan.
1. Perubahan jangka panjang
Perubahan sosial yang bersifat jangka panjang merupakan perubahan perubahan
yang terjadi akibat industrialisasi, perubahanmedia komunikasi dari yang
tradisional ke sistem modern, kemajuan di bidang teknologi dan perubahan system
ekonomi. Dalam kesehatan mental disadari bahwa perubahan sosial yang jangka
panjang itu juga ada pengaruhnya. Karena perilaku sosialnya dipengaruhi
dipengaruhi maka aspek kesehatan mental kita pun turut dipengaruhi.
2. Migrasi: Sebagai
Dampak Masyarakat Industri
Industrialisasi selalu menimbulkan migrasi. Dalam migrasi itu, tidak selalu
terjadi proses penyesuaian dengan kehidupan di lingkungan yang baru. Migrasi,
tidak hanya pindah secara fisik bagi individu, sekaligus terjadinya suatu
perubahan sosial. Karena terjadi migrasi, maka mereka harus meninggalkan sistem
keluarganya dan menjalankan pola keluarga baru.
Dalam penelitian konvensional yang menyangkut hubungan migrasi dengan
kesehatan mental, ditemukan terdapat pengaruh migrasi terhadap keseahtan
mental. Dilihat dari angka insidensi masuk rumah sakit, orang - orang migrant
lebih banyak mengalami ganbgguan mental migrasi dibandingkan dengan penduduk
aslinya. Demikian juga perbandingan angka insidensi pada anak - anak mereka
yang masuk rumah sakit, gangguan mental lebih banyak dialami oleh anak - anak
dari kalangan pendatang ketimbang penduduk asli. Hal itu menunjukkan bahwa
migrasi itu pada dasranya memepengaruhi kesehatan mental.
3. Kondisi Krisis
Kondisi krisis banyak terjadi di masyarakat, diantaranya perang, bencana,
atau peristiwa yang dapat menimbulkan krisis bagi masyarakat seperti krisis
ekonomi. Sama halnya dengan kondisi krisis yang lain, tampaknya krisis itu
tidak berpengaruh pada gangguan psikosis, tetapi pengaruhnya kepada gangguan
neurosis. Seperti halnya krisis moneter dan ekonomi yang terjadi di Indonesia,
dalam kurun satu tahun angka masuk rumah sakit jiwa karena psikotik relatif
stabil, tetapi gangguan non psikotik meningkat sangat tajam seperti tingkah
laku antisocial termasuk juga perilaku deviasi soaial untuk perilaku
agresivitas dan kriminalitas.
E. SOSIAL
BUDAYA
Hubungan kebudayaan dengan kesehatan mental dikemukakan oleh Wallace, 1963
yang meliputi tiga hal, yaitu:
1.
Kebudayaan yang mendukung dan menghambatkesehatan mental.
2.
Kebudayaan memberi peran tertentu terhadap penderita gangguan mental
3.
Berbagi bentuk gangguan mental karena faktor cultural
4.
Upaya peningkatan dan pencegahan gangguan mental dalam telaah budaya
Dalam kaitannya dengan kesehatan mental, kebudayaan ada yang memberikan
dukungan bagi peningkatan kesehatan mental dan sebagian lagi justru sensitif
bagi angka insiden dan lamanya gangguan kesehatan mental. Salah satu contoh
gangguan mental karena faktor budaya adalah amok. Amak ini adalah psikosis yang
ditandai oleh tindakan yang secara tiba - tiba mengamuk, berteriak, merusak,
dan dapat pula membunuh. Gangguan ini disebabkan oleh faktor yang membatasi
remaja dan orang dewasa mengekspresiksan emosi - agresinya dengan menanamkan
rasa malu.
F. STRESSOR PSIKOSOSIAL LAIN
Ilfeld (1977) menjelaskan situasi dan kondisi peran sosial sehari - hari
dapat menjadi sebagi masalah atau sesuatu yang tidak dikehendaki, dan karena
itu dapat berfungsi sebagai stressor sosial. Meskipun kekuatan pengaruhnya
terhadap kondisi mental stressor sosial itu kuat atau lemah ada kontribusinya.
Faktor
sosial lain dapat menghambat kesehatan mental seseorang, di antaranya konflik
dalam hubungan sosial, perkawinan, meninggalnya keluarga dekat. Stressor
psikososial ini secara umum menimbulkan efek negatif bagi orang yang
mengalaminya. Namun demikian tentang variasi stressor psikososial ini akan
berbeda untuk setiap masyrakat, bergantung kepada kondisi sosial masyarakatnya.
G. PENGARUH KELAS SOSIAL TERHADAP PENINGKATAN DERAJAT
KESEHATAN MASYARAKAT
Pengaruh kelas sosial ini dapat
dilihat dari tiga aspek :
a.
Kelas Sosial Bawah
Kesehatan kelas sosial golongan ini kurang berkembang
dan tidak terjamin karena pengaruh dari
ekonomi masyarakat yang masih di bawah rata-rata. Apalagi di lapangan ,
misalnya di sebuah rumah sakit kelas sosial ini terkesan tidak dipedulikan dan
pihak rumah sakit lebih mendahulukan yang ekonominya di atas rata-rata. Selain
itu, golongan ini lebih memilih obat yang harganya lebih murah atau mereka
hanya menggunakan obat-obat tradisional. Sehingga menyebabkan golongan ini
rentan terhadap penyakit dan menghambat peningkatan derajat kesehatannya.
b.
Kelas Sosial Menengah
Pada golongan ini kesehatannya sudah mulai membaik
sejalan dengan ekonominya yang lebih baik dari kelas sosial bawah. Sebagian
dari golongan ini sudah memahami pentingnya kesehatan dan sudah mulai
menggunakan obat-obatan yang modern, namun dengan harga yang belum terlalu
mahal. Peningkatan derajat kesehatan ini lebih cepat daripada kelas sosial
bawah.
c.
Kelas Sosial Atas
Golongan ini sudah memahami pentingnya kesehatan dan
betapa merugikannya suatu penyakit. Ekonomi golongan ini di atas rata-rata
sehingga peningkatan kesehatannya berkembang dengan cepat. Kesehatan golongan
ini sudah terjamin karena mereka cepat mengikuti perkembangan zaman. Pengobatan
golongan ini kebanyakan sudah menggunakan teknologi sehingga penyakitnya dapat
di atasi dengan cepat, misalnya dalam kecantikan golongan ini kebanyakan sudah
menggunakan laser yang dapat mengatasi masalah pada wajahnya, padahal belum
tentu dengan menggunakan laser tersebut baik untuk kesehatan kulitnya.
Namun masih ada juga bagian dari golongan ini yang
acuh terhadap kesehatannya padahal mereka sudah memahami pentingnya kesehatan.
Hal ini dapat disebabkan karena kesibukan mereka dalam pekerjaan sehingga
mereka tidak memiliki waktu untuk menjaga kesehatanya. Selain itu, golongan ini
cenderung menginginkan sesuatu yang lebih cepat atau instan, dan mereka tidak
memikirkan efek samping dari hal tersebut. Yang mungkin akan lebih memperburuk
kesehatan mereka.
H. PENGARUH ETNISITAS TERHADAP DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT
Pengaruh
etnisitas ini terdiri dari dua aspek , yaitu :
1.
Masyarakat Primitif
Masyarakat primitif ini jika dilihat
dari sistem pengobatannya, lebih ke pengobatan yang tradisional. Kurangnya
pengetahuan tentang pemahaman mengenai bagaimana cara pengobatan yang
semestinya sesuai dengan sistem medis yang ada. Bukan berarti pengobatan
tradisional itu salah, tapi ada cara yang lebih efisien dan efektif untuk
dilakukan yaitu dengan menggunakan teknologi medis yang sangat canggih.
2.
Masyarakat Modern atau Perkotaan
Masyarakat
modern telah menggunakan pengobatan yang canggih yaitu dengan melakukan
pengobatan di rumah sakit. Mereka lebih cenderung memilih alternative yang
cepat untuk mengubah status sakit mereka ke status sehat, walaupun mereka harus
mengeluarkan banyak uang demi penyembuhannya. Mengapa demikian ? karena mereka
tahu akan pengetahuan medis walaupun mereka bukan orang medis. Di sini, latar
belakang pendidikan juga berperan penting. Karena semakin tinggi pendidikan
seseorang maka semakin banyak pula pengetahuan yang mereka dapat.

0 komentar:
Posting Komentar